SUKABUMI – Di balik kemudi truk raksasa berbalut warna merah dan putih itu, terdapat dunia yang penuh dengan kesabaran dan ketekunan. Di sinilah kita menemukan para pahlawan tanpa tanda jasa, para sopir truk yang mengantarkan bahan bakar minyak (BBM) ke seluruh pelosok negeri. Ya para pejuangan penantang maut itu beken dengan julukan Awak Mobil Tangki (AMT).
Kisah mereka bukan hanya tentang menempuh jarak yang jauh, tetapi juga tentang menghadapi berbagai rintangan dan tanjakan kehidupan. Di balik dashboard kendaraan besarnya, tersembunyi seni kesabaran yang mereka pelajari dan terapkan dalam keseharian.
Siang itu, Rabu (30/10), cuaca sedang panas-panasnya. Sukabumi lama tak diguyur hujan, debu silih beterbangan dan semilir angin yang biasanya sejuk berganti rasa menjadi menyengat. Dadan Kusdeni, salah satu AMT yang sudah bekerja tujuh tahun itu pun mengisahkan bagaimana suka duka bergabung dan menjadi tonggak utama penyalur BBM Pertamina ke ujung Kabupaten Sukabumi tepatnya ke Surade.
Seperti diketahui bahwa Kabupaten Sukabumi adalah salah satu kabupaten terluas se-Jawa Bali setelah Banyuwangi. Berdasakan letak geografis, Kecamatan Surade memiliki luas wilayah mencapai 364.19 kilometer persegi dan memiliki 11 desa dan satu kelurahan.
Kepadatan penduduknya mencapai 696 orang per kilometer persegi. Artinya, jika dibagi per hektar, maka setiap hektar diisi oleh 70 orang penduduk. Merujuk data dari BPS 2021, jumlah penduduk di Surade saja mencapai 82.173 jiwa. Mereka tersebar di Desa Pasiripis dengan jumlah penduduk 13.334, Desa Buniwangi 11.263 jiwa, Desa Cipeundeuy 4.646 1,04 jiwa, Desa Gunungsungging 5.735 1,11 jiwa, Desa Citanglar 6.614 -3,79, Desa Jagamukti 5.875 0,93, Kelurahan Surade 9.562 0,74, Desa Kadaleman 5.319 1,22, Desa Wanasari 5.115 2,14, Desa Sirnasari 6.376 1,65, Desa Sukatani 3.980 2,02 dan Desa Kademangan dengan jumlah penduduk 4.354.
Kebetulan pria berkulit sawo matang nan ramah itu sedang berada di rumahnya, Soreang Bandung. Setelah sebelumnya mengirimkan BBM ke Surade. Maklum saja, Dadan Kusdeni mendapatkan jadwal kerja dengan skema 4:2 yakni 4 hari bekerja dan dua hari libur. Kepada jurnalis radarsukabumi.com, Dadan si penyayang keluarga itu acap kali menyempatkan waktu untuk berkumpul bersama anggota keluarganya di rumah bersama sang istri dan dua orang putera.
Sambil sesekali mengerutkan kening mengingat sejarah masa lalu, ia mulai bercerita tentang perjuangannya mengantarkan BBM hingga sampai dengan selamat ke tangan konsumen.
Sejarah itu dimulai pada saat moment menjelang Lebaran. Dadan diajak sang teman untuk membantu mengantarkan BBM ke SPBU yang sudah ditunjuk perusahaan.
“Sebelumnya sempat lama bekerja di salah satu perusahaan ekspedisi tepatnya dari tahun 2004-2017,setelah itu sekitar tahun 2017 diajak teman untuk membantu di Depot Padalarang dan kebetulan waktu itu kekurangan orang,” katanya.
Tawaran tersebut langsung diambil dengan senang hati oleh Dadan. Kurang lebih dua bulan lamanya membantu di Depot Padalarang.
Meski mengaku sempat diwarnai rasa takut bawa muatan BBM, tapi karena sudah terbiasa jadi Dadan tidak ragu lagi untuk meneruskan pekerjaan mulia ini dan sambil dinikmati.
“Walaupun keluarga besar saya mayoritas adalah sopir mulai dari bapak hingga anak-anaknya tetap saja ada rasa takut seperti takut terbakar di jalan dan lain sebagainya. Namun karena sudah terbiasa dan mendapat support atau dukungan dari keluarga, jadi rasa takut itu hilang berganti dengan rasa senang dan bangga menjadi bagian dari AMT di Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB),” terangnya.
Meski lahir dari keluarga yang mayoritas berprofesi sebagai sopir, Dadan tetap memberikan pengertian kepada pihak keluarganya bahwa bekerja sebagai AMT di Pertamina adalah tugas mulia dan aman. Karena ia tahu betul bagaimana perusahaannya bertanggung jawab penuh kepada seluruh pekerja.
“Walaupun keluarga sudah tidak aneh lagi dengan dunia yang penuh dengan kesabaran, ketekunan dan persahabatan ini karena hampir semua keluarga besarnya berprofesi sebagai sopir, saya selalu memberikan penjelasan bahwa menjadi sopir BBM di Pertamina itu difasilitasi dengan kendaraan yang bagus-bagus dan sudah teruji keamanannya tidak seperti dulu pada saat bekerja di perusahaan ekspedisi,” ujarnya.
Pria 44 tahun itu tidak pernah putus dan sungkan untuk meminta doa kepada keluarga. “Setiap berangkat kerja itu saya selalu minta doa dari keluarga supaya dalam menjalankan tugas sebagai AMT selalu dilindungi oleh Allah SWT, selamat, lancar dan aman,” ulasnya.
Dadan ditemani satu orang kondektur membawa tangki bermuatan 16 ribu liter untuk disalurkan ke wilayah Surade Kabupaten Sukabumi. “Iya jadi satu mobil itu berdua, saya dengan kondektur dan kondektur juga sudah mahir mengemudikan mobil tangki, kalau tidak seperti itu saya tidak kuat kalau bolak-balik bawa sendiri rawan kan tidak bisa tidur. Jadi berangkat saya yang bawa, baru giliran pulang oleh kondektur,” kata Dadan.
Menurutnya dimanapun ditugaskan, seorang AMT harus siap. Mengetahui rute yang dilalui cukup memakan waktu lama, Dadan punya strategi jitu agar BBM ini bisa sampai tepat waktu dan aman ke tangan konsumen yang menunggunya di Surade.
“Mau ditugaskan kemana saja dan jam berapa itu harus siap grak, ini sudah tugas saya sebagai AMT. Paling sibuk pengiriman di saat bulan Ramadan dan Lebaran, sebisa mungkin harus bisa jaga kesehatan dan atur waktu supaya tidak kecapean di jalan. Makanya hampir tiap hari raya saya jarang di rumah karena jadwalnya masuk bekerja, mau bagaimana lagi kalau jadwalnya kerja ya kerja walaupun Idul Fitri,” paparnya.
Sejak pagi Dadang standby di Depot Padalarang, kemudian narik satu rit dengan rute terdekat seperti ke Cianjur, setelah dari Cianjur baru rit keduanya langsung ke Surade. “Dibutuhkan waktu 8 jam lamanya untuk mengantar BBM ke Surade, kalau dari Depot Padalarang berangkat jam 15.00 WIB maka sampai ke Surade sampai jam 12 malam,” urainya.
Wilayah Surade cukup aman, namun jalannya kecil dan penuh risiko untuk mobil berukuran besar. “Alhamdulillah selama bertugas ke Surade walaupun jalannya kecil dan risikonya lumayan besar, kami tidak ada apa-apa, Alhamdulillah aman. Paling pengalaman uniknya itu kempes ban di tengah hutan kalau ke Surade, mana dongkrak tidak naik, kunci roda juga tidak ada ya terpaksa menunggu bala bantuan dari teman yang jaraknya lumayan jauh,” imbuhnya sambil tertawa kecil.
Agar tidak terjebak macet, Dadan harus mengetahui jadwal pulang pegawai pabrik. “Untuk menghindari macet, tekniknya jalan dipercepat atau cari jalan tikus yang bisa dilalui oleh truk besar seperti tanki ini,” ujarnya.
Ia sangat hati- hati dalam memilih titik pemberhentian. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan seperti tanggapan miring dari masyarakat curiga dan menjaga nama baik perusahaan, SPBU menjadi pilihan utama Dadan untuk singgah. “Kalau ngirim jarang berhenti, langsung bablas ke pom, termasuk jika lapar mendera tetap saya turunnya di SPBU terdekat,” ulasnya.
Ketua Hiswana Migas Sukabumi, Eten Rustandi mengapresiasi kinerja para petugas AMT yang bekerja dengan gigih mengantarkan BBM ke Sukabumi.
“Kami sangat menghargai kerja keras mereka yang dituntut tepat waktu dan aman sampai tujuan, baik AMT BBM maupun AMT skidtank LPG,” tuturnya.
Eten berharap ada apresiasi dari pihak Pertamina, yaitu dengan menambah biaya transportasi ke pihak transportir anggota Hiswana Migas. “Dengan demikian ada tambahan untuk para AMT, juga ke pihak transportir agar memberikan insentif yang layak agar para AMT ini dapat bekerja degan tenang,” harapnya.
Sementara itu di tempat terpisah Area Manager Communication, Relations & CSR Regional JBB PT Pertamina Patra Niaga Eko Kristiawan mengaku bangga dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang terlibat, khususnya para AMT.
“Tentunya kami sangat mengapresiasi AMT yang bertugas dengan baik dan sesuai dengan prosedur. Harapannya adalah semua AMT dapat bekerja dengan baik dan profesional sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan perusahaan,” ungkap Eko.
Pria murah senyum itu mengakui jika pekerjaan ini tidak mudah untuk dijalani. Mengingat para AMT harus rela meninggalkan keluarga demi menjalankan misi kemanusiaan membantu masyarakat khususnya di Sukabumi.
“Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, para pekerja AMT tentunya telah dilengkapi dengan perlindungan dari perusahaan masing-masing yang sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundang-undangan,” terang Eko.
Berdasarkan data yang dihimpun dari PT Pertamina Patra Niaga Regional JBB tercatat ada 1.546 SPBU Reguler dengan hampir 3000 AMT BBM.
“Kami juga sangat mengapresiasi yang telah dilakukan Hiswana Migas dan semoga kedepannya akan menjadi lebih baik lagi. Terima kasih,” pungkasnya. (sri)






