EKONOMI

Meneliti Terubuk, Reny Kuasai Empat Hak Cipta

SUKABUMI – Pembangunan daerah sangat ditentukan oleh potensi yang dimiliki oleh suatu daerah itu sendiri. Oleh karenanya, diperlukan kebijaksanaan yang dibuat oleh pemerintah daerah (Pemda), dan tentunya harus mengacu kepada potensi daerah yang berpeluang untuk dikembangkan, khususnya sektor pertanian.

Berangkat dari kondisi itu, tiga orang peneliti handal dan mumpuni di bidangnya asal Sukabumi meneliti terubuk sejak 2016 hingga sekarang. Siapa lagi kalau bukan Reny Sukmawani, Ema Hilma Meilani, dan Asep M Ramdan.

Meski terubuk masih terdengar asing bagi sebagian besar masyarakat, namun hal itu justru membuat Reny Sukmawani sebagai ketua dalam penelitian ini didukung oleh dua anggota penelitinya yakni Ema Hilma Meilani, dan Asep M Ramdan tertantang untuk konsen meneliti terubuk yaitu komoditas pertanian yang dimiliki Kabupaten Sukabumi namun belum dikembangkan secara serius.

Reny yang kini menjabat sebagai Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) sekaligus Bidang Kerjasama dan Komunikasi Forum Standardisasi Nasional, Badan Standardisasi Nasional (BSN) periode 2018-2021 itu memiliki pemikiran maju bahwa untuk membangun daerah maka setiap daerah hendaknya dapat mengembangkan komoditas unggulan daerahnya berdasarkan spesifik lokasi ke arah yang lebih baik.

“Nah agar komoditas itu mampu menjadi penggerak utama pembangunan ekonomi, maka perlu dilakukan analisis secara mendalam,” tegas Ketua Peneliti terubuk, Reny Sukmawani kepada Radar Sukabumi tadi malam, Rabu (13/11).

Analisis mendalam yang dimaksud perempuan berhijab yang juga Reviewer Nasional Kemenristekdikti untuk Hibah Penelitian Kompetitif Nasional Penelitian Dosen Pemula (PDP) ini adalah analisis terhadap karakteristik dari komoditas terkait baik dari aspek kriteria unggulnya, sistem agribisnisnya, maupun kelayakan bisnisnya sehingga dapat dikembangkan sesuai dengan daya dukung sumber daya yang ada di daerah tersebut melalui model pengembangan yang berbasis lokal.

“Penerapan model pembangunan pertanian berbasis lokal dapat digunakan sebagai salah satu upaya peningkatan pembangunan pertanian secara spesifik dengan lokasi di Kabupaten Sukabumi,” tuturnya.

Kabupaten Sukabumi sendiri merupakan salah kabupaten terluas se-Jawa dan Bali. Terdiri dari 47 kecamatan, Kabupaten Sukabumi memiliki potensi pertanian yang cukup baik berdasarkan kondisi wilayah dan geografisnya.

“Komoditas pertanian di Kabupaten Sukabumi cukup beragam ya, dan salah satu komoditas yang banyak ditemukan di sini dan punya potensi namun belum dikembangkan secara serius dan mendapat sentuhan adalah tanaman turubuk (terubuk,red) yang kami teliti sejak 2016 hingga sekarang,” terangnya.

Terubuk adalah tanaman sayuran potensial, lantaran kandungan nilai gizi dan vitaminnya yang tinggi. Bunga terubuk mengandung protein sekitar 4,6–6 persen, disamping juga banyak mengandung mineral terutama Kalsium dan Fosfor serta Vitamin C (Terra, 1966 dalam SEAFAST CENTER, 2012,red).

terubuk merupakan salah satu tanaman asli dari Indonesia, dikenal juga dengan nama tobubunga, turubuk / tiwuendog / terubus,(Sunda), tebuendog (Jawa), delowako. Tanaman yang bernama latin Saccharumedule Hasskarlini, permintaannya cukup tinggi di pasar tradisionalyang dijual sekitar sepuluh bunga per ikat (Arsela, Primadiyanti. 2011).

Di Kabupaten Sukabumi, terubuk dapat ditemukan khususnya di wilayah selatan. Sebagai tanaman sayuran potensial, turubuk belum banyak dikembangkan secara khusus.

“Benar terubuk ini belum banyak dikembangkan secara khusus. Penanaman yang dilakukan masih subsisten, belum ada sentuhan teknologi dan belum menerapkan prinsip berusaha tani yang baik(Good Agricultural Paracteces),” ujarnya.

Padahal masih kata Reny, sebagai tanaman “ndeso” terubuk memiliki potensi dimaksimalkan perannya dalam meningkatkan pendapatan petani.

Beranjak dari pemikiran tersebut, penelitian yang didanai Kemenristekdikti di tahun ketiga kerjasama dengan Dinas Peternakan Kabupaten Sukabumi khususnya kajian pohon industri terubuk dalam pemanfaatan limbahnya untuk pakan ternak segar, silase dan kompos itu dipilih model pengembangan usaha tani terubuk sebagai suatu upaya agar terubuk dapat memiliki status teknologi yang berorientasi pada kelestarian sumber daya dan lingkungan.

“Di samping tentu saja diharapkan dapat menjadi penggerak utama pembangunan perekonomian, mampu menyerap tenaga kerja berkualitas secara optimal sesuai dengan skala produksinya, dapat bertahan dalam jangka panjang tertentu,” paparnya.

Dijelaskan perempuan yang dikenal smart ini, model pengembangan usaha tani terubuk berpotensi besar dalam pengembangan ekonomi daerah. Sehingga berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani, dan peningkatan pembangunan pertanian di wilayah tersebut.

Pilihan ini berdasarkan kecenderungan bahwa apabila suatu wilayah dapat mengembangkan sektor pertaniannya dengan baik berdasarkan potensi wilayahnya, maka akan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut (Sukmawani, et al. 2014).

Bak gayung bersambut, kerja keras dan kekonsistenan para peneliti yang dikomandoi Reny Sukmawani itu, akhirnya mampu menghasilkan karya super keren yang memiliki hak cipta langsung dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM) RI sebanyak empat hak cipta.

Keempat hak cipta itu adalah Hak Cipta SOP Usahatani Trubus/Terubuk No. 01512, 4 Februari 2017, Kemenhukum dan HAM RI, Hak Cipta Pedoman Usahatani Terubuk/Trubus No. 000103089, 14 Maret 2018, Kemenhukum dan HAM RI, Hak Cipta Pohon Industri Trubuk No. 000119318, 30 September 2018 Kemenhukumdan HAM RI, dan Hak Cipta Gambar Model Pengembangan Usahatani Terubuk, No. 000137981, 1 Maret 2019, Kemenhukum dan HAM RI.

Disamping itu, hasil pelitiannya sudah dipublikasikan di jurnal nasional terakreditasi, dan intenasional serta diseminarkan di seminar nasional. (sri)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button