Bhima mewanti-wanti potensi pelaku usaha mengambil langkah efisiensi dalam bentu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal. Hal itu rentan dilakukan pengusaha bila nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan.
Saat ditanya mengenai program pemerintah mengembangkan industri subtitusi bahan baku impor, Bhima melihat, belum berjalan efektif. Hal itu bisa dilihat dari ketergntungan impor bahan baku industri farmasi.
Dia menjelaskan, Indonesia memiliki beragam tumbuhan obat. Tetapi sampai saat ini, industri farmasi masih mengandalkan bahan baku impor. “Dengan struktur industri kita yang masih bergantung impor, pelemahan rupiah akan memukul ekonomi,” Kata nya.
Ia menyarankan, pemerintah untuk membuat paket kebijakan untuk menjaga stabilitas rupiah. Menurutnya, saat ini diperlukan kombinasi kebijakan. Tidak hanya kebijakan moneter tetapi juga fiskal.
Misalnya, membuat paket tentang stabilisasi kurs dengan perbanyak insentif bagi sektor yang bisa menguatan devisa. “Jadi bentuknya harus lintas sektoral sehingga dampak ke penguatan rupiah bisa langsung terasa,” imbuhnya.
(rmol)



