Curhat Pedagang Pasar Baru Bandung: Pembeli Kian Sepi Terancam Gulung Tikar?

Pasar Baru Kota Bandung
Pasar Baru Kota Bandung

BANDUNG – Era digital memang membuat banyak orang menggunakan cara-cara praktis dan efisien dalam segala hal salah satu menggunakan aplikasi/online. Termasuk dalam berbelanja bagi para konsumen dalam memenuhi kebutuhan sandang pangan.

Terhitung sudah cukup lama, konsumen memilih belanja secara online, menjadi pilihan utama saat ini, alasannya selain harga terjangkau, konsumen pun tak perlu repot-repot datang ketempat belanja, tenti saja hal itu sangat efisien.

Bacaan Lainnya

Namun, dampak dari sistem transaksi digital tersebut membuat para pedagang yang ditempat-tempat perdangang, salah satunya di Pasar Baru Kota Bandung, nyaris gulung tikar akibat sepinya pembeli.

Bagaimana tidak, jumlah pembeli yang biasanya langsung datang, kini sudah beralih ke belanja online. Sehingga turunnya penghasilan para pedagang di Pasar Baru, Kota Bandung. Bahkan, biaya sewa pun turun drastis dari sebelumnya.

Salah satu ‘curahan hati’ (curhat) disampaikan oleh Tuti Fatmawati, dirinya memiliki dua kios di Pasar Baru. Bahkan, sebelumnya, dia memiliki tiga kios dengan SHGB (Sertifikat Hak Guna Bangunan).

“Mulanya kita ini bisa dapat penghasilan Rp5 juta per kiosnya dalam satu hari. Kini dapat Rp2 juta juga sudah bersyukur atau kalau dapat Rp1 juta juga sudah lumayan,” tuturnya

“Itu pun, mereka yang membeli ini di toko kami, hanya para langganan tetap saja,” tambah Tuti, saat berbincang dengan RadarSukabumi, Minggu (8/10/1/2023).

Menurut wanita paruh baya ini, turunnya penghasilan berasal dari berbagai faktor. Misalnya, tak ada lagi pembeli Malaysia yang dulu rutin datang ke Pasar Baru melalui Bandara Husein Sastranegara.

“Selain itu, pandemi Covid-19 juga mempengaruhi penjualan di Pasar Baru. Bahkan, banyak yang juga tutup akibat pandemi tersebut,” ungkapnya.

Sebelumnya, saat Pasar Baru masih sehat, Tuti mengatakan, biaya sewa kios-kios pun sangat mahal. Bahkan, ada yang mencapai Rp100 juta per tahun bahkan lebih.

Namun, untuk sekarang ini, biaya sewa hanya berkisar Rp30 juta per tahunnya. “Saya juga sekarang hanya memiliki satu kios yang digunakan. Dan, kios yang dipakai justru yang kecil karena posisinya strategis dekat eskalator,” kata Tuti.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *