SUKABUMI, RADARSUKABUMI.com – Memasuki minggu kedua Juli 2019, harga cabai merah di Kota Sukabumi makin mahal. Di Pasar Gudang yang berada di Jalan Tipar Gede Kecamatan Citamiang, harganya berada di angka Rp80 ribu per kilogram (Kg). Tidak jauh beda dengan harga cabai rawit, sama-sama mahalnya.
Pantauan Radar Sukabumi, harga untuk sekilo cabai rawit konsumen harus mengeluarkan uang senilai Rp60 ribu.
Eha (43), pedagang bumbu dapur dan sayur mayur di Pasar Gudang ini mengungkapkan harga kedua komoditas itu terus mengalami kenaikan, dan belum kembali ke posisi harga normal.
“Sudah dua pekan ini harga cabai merah dan cabai rawit naik,” kata Eha saat diwawancarai Radar Sukabumi, kemarin (10/7).
Ia pun menerangkan jika harga cabai merah biasanya dijual dengan harga Rp20 ribu per kg, sekarang melonjak drastis menjadi Rp80 ribu per kg.
Begitu juga untuk cabai rawit, biasanya konsumen bisa membelinya dengan harga Rp20 ribu per kg, kini naik menjadi Rp60 ribu per kg.
“Benar, untuk cabai merah lokal saat ini saya jual Rp80 ribu per kilogram, cabai merah TW Rp60 ribu per kilogram. Sementara cabai rawit hijau dan domba harganya dikisaran Rp60 ribu per kilogram,” bebernya.
Ternyata harga yang masih belum menyentuh harga normal tersebut, menurut Eha, sebenarnya sudah mengalami penurunan sejak dua hari yang lalu. Misalnya untuk cabai merah lokal sebelumnya sempat berada dikisaran Rp100 ribu per kg, sekarang turun jadi Rp80 ribu per kg. Meski begitu harga tersebut masih dirasakan sangat mahal untuk dijual ke konsumen.
“Ya kalau untuk normalnya cabai merah sama cabai rawit paling di harga Rp20 ribu per kilo,” ucapnya.
Eha memprediksi melonjaknya kedua harga cabai tersebut disebabkan banyak petani yang mengalami gagal panen di sejumlah daerah akibat musim kemarau. Sehingga berdampak pada panen cabai yang membusuk, dan tidak bisa terjual.
Ironisnya selain mahal, stok cabai di pengepul terbatas. Eha yang biasa membeli 50 kilogram untuk bahan-bahan bumbu dapur, kini hanya bisa membeli paling banyak 10 kilogram saja.
“Di disributornya juga barangnya susah, jadi jualnya seadanya aja. Bahkan harga dari distributornya saja naik, biasa saya beli Rp30 ribu-Rp40 ribu per kg sekarang Rp63 ribu per kilo dari distributornya, otomatis saya juga harus ikutan menaikkan naik,” keluhnya.
Meski begitu tak sedikit pembeli yang mengeluh karena harganya yang mahal. Namun, keluhan tersebut terpaksa diterima mereka lantaran adanya kebutuhan.
Sementara itu, salah satu konsumen Pipit (57) mengaku keberatan dengan harga bumbu dapur yang mahal. Apalagi komoditas bumbu dapur ini salah satu bahan dasar masakan.
“Sebagai ibu rumah tangga berharap harga-harga bisa tetap stabil, meski kemarau, hujan ataupun mau Lebaran, biar dapur tetap ngebul,” kesalnya.
Pipit mengaku kedua bahan tersebut sering ia gunakan untuk membuat sambal, apalagi keluarganya hobi makan dengan sambal dan setiap masak harus ada sambalnya.”Sudah mahal, barangnya juga jarang di pasar, kalaupun ada kadang kualitasnya jelek,” tutupnya.
(wdy)






