IRAN — Teheran, Sabtu pagi itu, udara terasa berat. Bukan hanya karena dentuman rudal yang mengguncang langit, tetapi juga kabar duka yang menyebar cepat: Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dikabarkan syahid.
Di jalanan, warga berdesakan mencari informasi, sebagian menyalakan televisi pemerintah yang menyiarkan pengumuman Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). “Operasi ofensif paling brutal dalam sejarah angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan dimulai,” begitu bunyi pernyataan yang menggema.
Namun, di balik retorika militer, ada wajah-wajah yang tak masuk hitungan statistik. Seorang ayah muda menuntun anaknya menjauh dari pusat kota, sementara seorang pedagang roti tetap membuka lapaknya, berharap pelanggan masih datang meski suasana mencekam.




