DUNIA

Syahidnya Khamenei: Antara Air Mata dan Api Perlawanan

×

Syahidnya Khamenei: Antara Air Mata dan Api Perlawanan

Sebarkan artikel ini
Di balik kabar duka, ada kehidupan sehari-hari yang tetap berjalan

IRAN — Teheran, Sabtu pagi itu, kabar duka menyebar cepat: Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dikabarkan syahid. Pemerintah Iran segera mengumumkan masa berkabung selama 40 hari, disertai libur kerja seminggu penuh.

Bank bjb Tandamata

Di jalanan, suasana berubah. Bendera-bendera hitam berkibar di sudut kota, sementara toko-toko menutup pintu lebih awal. Televisi pemerintah menyiarkan pengumuman resmi, dan warga berkumpul di masjid untuk melantunkan doa.

Bagi sebagian warga, masa berkabung ini bukan sekadar tradisi. “Kami kehilangan sosok yang selama puluhan tahun menjadi simbol,” ujar seorang pria paruh baya di depan makam keluarga. Di wajahnya, terlihat campuran kesedihan dan kebanggaan.

Namun, di balik ritual duka, dentuman konflik masih terdengar. Serangan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan warga sipil dibalas dengan rudal Iran ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS. Di tengah hiruk pikuk geopolitik, kehidupan sehari-hari tetap berjalan: anak-anak berangkat sekolah, pedagang roti membuka lapak, dan doa terus dipanjatkan.