“Ini pertama kalinya Houthi menggunakan bom klaster sejak mereka mulai menyerang Israel pada 2023,” kata seorang pejabat Angkatan Udara Israel, yang tidak mau disebutkan namanya. Menurutnya, bom klaster lebih sulit dicegat dan kemungkinan merupakan teknologi baru dari Iran.
Serangan Houthi selama dua tahun terakhir telah mengganggu jalur perdagangan internasional di Laut Merah, yang menjadi rute penting dengan nilai transaksi mencapai sekitar 1 triliun Ddolar AS per tahun. Dari November 2023 hingga Desember 2024, mereka telah menyerang lebih dari 100 kapal menggunakan rudal dan drone.
Amerika Serikat sempat mengumumkan kesepakatan dengan Houthi pada Mei lalu. Dalam kesepakatan itu, AS menghentikan serangan udara sebagai imbalan penghentian serangan terhadap kapal. Namun, Houthi menegaskan mereka tetap akan menyerang target yang bersekutu dengan Israel. (*)






