IRAN — Teheran, Sabtu pagi itu, kabar duka menyelimuti negeri. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dikabarkan syahid dalam serangan besar-besaran. Namun sebelum berita itu dikonfirmasi, beredar narasi tentang pidato terakhirnya—sebuah pesan yang disebut disampaikan kepada keluarga dan publik.
Pidato itu dimulai dengan ayat suci Al-Quran, menegaskan janji iman dan keteguhan hati. “Bangsa Iran telah sepenuhnya mempelajari pelajaran Islam dan Syiah; mereka tahu apa yang harus dilakukan,” demikian salah satu kutipan yang kemudian menyebar luas.
Bagi rakyat Iran, kata-kata itu bukan sekadar retorika. Ia menjadi simbol perlawanan, pengingat akan sejarah panjang bangsa yang menolak tunduk pada kekuatan asing. Dalam pidato itu, Khamenei juga berbicara tentang kematian sebagai kehormatan, bukan sekadar akhir kehidupan biasa.






