DUNIANASIONALPOLITIK

Musuhan 20 Tahun, Kini Amerika Kini Jadi Mitra Taliban

×

Musuhan 20 Tahun, Kini Amerika Kini Jadi Mitra Taliban

Sebarkan artikel ini
Afghanistan
Keakraban Marinir AS dan anak-anak Afghanistan/Net

AFGHANISTAN — Lenyap Sudah Permusuhan 20 Tahun, Amerika Kini Menjadi Mitra Erat bagi Taliban. Meski, Afghanistan belum berhenti dari kekacauan. Perang panjang selama 20 tahun telah membuat negara itu terpuruk dalam penderitaan. Disusul dengan ledakan di bandara Kabul, tragedi paling berdarah yang sama mengerikannya dengan ancaman-ancaman yang selama ini menghantui warga negara itu.

Namun, ada yang menarik di antara duka nestapa itu. Di tengah jeritan tangis orang-orang yang kehilangan anggota keluarganya dan di antara kekecauan evakuasi warga, terlihat tentara AS menjadi erat dengan anggota Taliban.

Bank bjb Tandamata

Satu dua anggota Taliban terlihat menyemangati seorang anggota pasukan AS. Bahkan, mereka saling menyapa dan menepuk.

Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Jenderal Kenneth F McKenzie mengatakan dalam siaran persnya bahwa saat ini pihak AS telah berbagi informasi intelijen dengan Taliban, mencatat bahwa kedua pihak memiliki tujuan yang sama.

Saat ini, pasukan Amerika justru mengandalkan militan Taliban untuk membantu memberikan keamanan di bandara.

Selama 20 tahun AS menginvasi Afghanistan untuk menyingkirkan Taliban. Namun, di hari-hari terakhirnya, dan juga setelah ledakan bandara kabul, AS justru nampak mesra dengan kelompok itu. Bekerja sama dalam menjaga bandara dengan orang-orang yang seminggu lalu masih menjadi target untuk dihabisi.

Yang jauh lebih menarik lagi, sekilas ada yang nampak sama. Di bandara Kabul, anggota Taliban dari unit komando pasukan khusus 313 Taliban mengenakan perlengkapan taktis terbaru yang hampir sama dengan militer AS, dan berpatroli di tempat parkir bandara Kabul yang sama dengan Marinir AS, hanya dipisahkan oleh beberapa gulungan kawat berduri.

Misi utama Taliban di sekitar bandara pada hari-hari terakhir evakuasi yang kacau itu adalah untuk menahan ISIS, sebuah organisasi yang bahkan lebih radikal, setelah ledakan bandara.

“Sebanyak 5.200 pasukan Amerika yang masih berada di Afghanistan menggunakan Taliban sebagai alat untuk melindungi kami semaksimal mungkin,” kata McKenzie.

Pos-pos pemeriksaan yang dijaga Taliban dalam perjalanan ke bandara, telah melakukan koordinasi dengan AS, menyaring warga Afghanistan pernah bekerja dengan pasukan Barat atau di kedutaan, yang sebelumnya dikhawatirkan menjadi target pembalasan dendam Taliban.

McKenzie meyakinkan bahwa Taliban memberikan penjagaan keamanan luar untuk pasukan Amerika. Mengenai pemblokiran jalan yang sebelumnya diduga untuk menahan warga sipil agar tidak berangkat ke bandara, diklaim McKenzie sebagai permintaan AS untuk memperkuat batas pos pemeriksaan.

Ini kenyataan yang membingungkan dan melahirkan tanya. Apa yang tersisa dari perjuangan selama 20 tahun yang menghabiskan banyak nyawa dan biaya yang sangat besar? Militer AS sendiri telah kehilangan 2.465 tentaranya yang tewas selama invasi itu.

Lisa Curtis, seorang ahli Afghanistan yang bertugas di Departemen Luar Negeri, Badan Intelijen Pusat dan Dewan Keamanan Nasional di bawah Bill Clinton, George W. Bush dan Donald Trump, mengatakan bahwa akhir dari misi 20 tahun pasukan AS berakhir dengan cara yang sulit diduga.

“Misi AS di Afghanistan berakhir dengan cara terburuk yang bisa dibayangkan,” kata Lisa.

Saat ini, ketika Taliban berkuasa atas Afghanistan, mereka sedang mencari pengakuan internasional. Taliban juga memperbarui akses ke sistem keuangan global dan kemungkinan bantuan asing.

Bagi Washington, ada alasan bagus untuk tetap berdialog dengan Taliban bahkan setelah pasukan Amerika terakhir terbang keluar dari Kabul pada 31 Agustus. Operasi kontraterorisme melawan ISIS adalah salah satu prioritas.

Prioritas lainnya adalah tetap melanjutkan evakuasi, sebab masih banyak lagi warga asing dan warga Afghanistan yang ingin meninggalkan negara itu.

“Ada banyak warga yang masih tertinggal, itu akan membutuhkan beberapa kerjasama transaksional pragmatis dengan Taliban untuk memfasilitasi evakuasi mereka yang tersisa,” kata Laurel Miller, yang menjabat sebagai penjabat Perwakilan Khusus AS untuk Afghanistan dan Pakistan di bawah mantan presiden Barack Obama dan Donald Trump.

Sebenarnya ‘keakraban’ Taliban dengan AS mulai muncul saat perjanjian Februari 2020 di Doha, Qatar, yang mengikat AS untuk menarik pasukannya. Beberapa pejabat pemerintahan Trump berpandangan bahwa tidak ada penyelesaian damai yang mungkin terjadi tanpa persetujuan Taliban, sehingga mereka terlibat dengan para militan dengan harapan mereka akan menyetujui kesepakatan pembagian kekuasaan.