“Kan prosesnya bisa macam-macam. Tadi, seperti tetutup mulut, hidung, leher, dada atau penyakit. Jadi itu proses kelihatan tapi penyebabnya belum tau nih, apakah memang penyakit atau ada yang lain. Kalau yang lain itu harus lihat dari TKP-ny! bagaimana,” bebernya.
Sebab itu, salah satunya peran dari prnyidik itu sangat besar di TKP. Misalnya saja, tim penyidik itu menemukannya ke arah mana di TKP. Karena, menurutnya ia sebagai dokter forensik hanya meriksa dari korbannya dan mendukung atau tidak kecurigaan dari penyidik.
“Tadi saya tanya sama keluarganya, gak ada keluhan dan gak punya riwayat penyakit. Tapi kan itu bukan berarti dia gak punya, bisa gak dirasa atau gak pernah komplen,” imbuhnya.
Sementara itu, sepupu korban berinisial RK (24) mengatakan, ia mengaku tidak mengetahui secara jelas terkait kronologi kematian korban yang diketahui merupakan pakde-nya tersebut.
“Untuk kronologi kejadian, saya juga kurang jelas yah dari mana kemananya, tapi yang jelas dari anaknya sendiri yang saat ini tidak bisa diwawancarai, terakhir itu anaknya ketemu sama almarhum itu dari hari Sabtu (04/11) kemarin, kemudian di Minggu (05/11) sudah nggak ada kontak,” kata RK kepada Radar Sukabumi saat menunggu hasil autopsi di RSUD R Syamsudin Kota Sukabumi.
Setelah itu, pada Senin (06/11) sore sekitar pukul 18.00 WIB, korban sempat menghubungi anaknya dan mengatakan, bahwa korban dapat order langganan. Kemudian pada Selasa (07/11), korban sudah hilang kontak bersama keluarga dan anaknya.
Saat hilang kontak, istrinya sempat nelpon ke nomor telephone korban yang biasanya digunakan korban. Namun, tidak diangkat dan kemudian pihak keluarganya mencoba menghubungin nomor grab tempat korban bekerja. Namun, tidak ada jawaban.
“Kemudian dengan inisiatif anaknya, untuk menghubungi temen-temennya korban dan sama tidak ada yang tahu. ibu saya itu bilang, kalau korban ini sudah tidak ada kontak sejak dua hari yang lalu,” timpalnya.
Tidak lama setelah itu, pada Selasa (07/11) malam tepatnya sekira pukul 23.00 WIB ada TKP. RK sendiri mengetahui kejadian tersebut, pada Rabu (08/11) pagi sekira pukul 06.00 WIB dari group WahtasApp keluarga.
“Informasinya, ada laporan dari masyarakat ke call center polisi dan ternyata setelah diselidiki singkronlah datanya ternyata bener itu adalah keluarga kami,” bebernya.
“Korban ini, sudah lama jadi seorang driver Grab Car. Korban ini aslinya, orang Wonogiri dan satu kampung dengan saya. Cuman tinggalnya itu di Depok di Kalimulya. Mungkin di Kalimulya ini, ada orderan ke Sukabumi yah, tapi lebih jelasnya kurang tahu, ya nanti nunggu dari kepolisian,” bebernya.
Kematian korban, kata RK, diduga kuat karena dibunuh atau ada indikasi rencana pembunuhan. Lantaran, saat ditemukan posisi kedua tangan dan kedua kaki korban diikat dari lakban.






