SUKABUMI – Jarum jam baru menunjukkan pukul 06.00 WIB, namun tepian Sungai Cimandiri di Kampung Leuwidinding sudah riuh. Belasan anak berseragam sekolah dasar berdiri berdempetan di atas perahu karet, sementara seorang buruh pabrik gelisah menatap jam tangan, khawatir terlambat presensi.
Pemandangan mendebarkan ini bukan simulasi bencana, melainkan rutinitas harian warga Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi. Sejak bencana banjir dan longsor pada 28 Desember 2025 merobohkan Jembatan Gantung Leuwidinding, warga terpaksa bertaruh nyawa menyeberangi arus sungai selebar 40 meter demi sekolah, bekerja, atau sekadar mengakses layanan dasar.
Putusnya jembatan ini membuat sedikitnya delapan RT di Kampung Leuwidinding terisolasi. Sungai Cimandiri seolah menjadi dinding pemisah raksasa yang memutus akses mereka ke Desa Parakanlima, Kecamatan Cikembar, dan Desa Sirnaresmi di Kecamatan Gunungguruh.
Kepala Desa Tanjungsari, Abah Ilah, menyebut warganya dihadapkan pada pilihan pahit. “Kalau memutar lewat jalur darat jaraknya hampir enam kilometer. Bagi anak sekolah dan buruh pabrik, jalur itu terlalu jauh dan memakan waktu serta biaya. Akhirnya menyeberangi sungai dengan perahu karet jadi opsi tercepat, meski penuh risiko,” ujarnya.
Risiko itu nyata. Saat cuaca cerah, riak Cimandiri mungkin bersahabat. Namun hujan di hulu bisa membuat debit air melonjak drastis dalam hitungan jam, mengubah arus tenang menjadi jeram berbahaya.
Dampak sosial dari mandeknya pembangunan jembatan kian memprihatinkan. Pendidikan, ekonomi, hingga kesehatan warga lumpuh. Ironi paling menyayat hati terjadi ketika ada warga sakit atau melahirkan. Pasien harus digotong beramai-ramai, dinaikkan ke perahu karet, lalu menyeberangi sungai dengan penuh kecemasan.
Selama enam bulan terakhir, keselamatan warga sempat bergantung pada perahu karet bantuan BPBD Kabupaten Sukabumi. Namun, akibat pemakaian intensif, perahu itu rusak. Beruntung, TNI Angkatan Laut melalui Koarmada RI memberi bantuan darurat berupa satu unit perahu karet baru beserta pelampung dan dayung. Meski membantu, solusi ini tetap bersifat sementara.



