“Setelah mulai surut, saya berusaha turun sambil memeluk anak yang katanya anaknya Aa Jimmy. Sesampai dibawah ada yang mengaku pengasuh atau baby sisternya dan saya serahkan karena kondisi saya pun sudah cukup parah,” cerita Udeng.
Setelah di darat, Udeng melihat ada pengguna sepeda motor dan memohon untuk menunpanginya kepemukimam warga. Setelah sampai di pos satpam, kemudian Udeng bersama korban lainya menuju salahsatu Kampung tempat kerabatnya bermukim.
“Awalnya naik motor, terus naik mobil dengan tujuan rumah sakit, karena rumah sakit penuh akhirnya saya ke daerah Tarogong tempat saudara dan dirawat sementara secara tradisional di tempat itu,” lanjut Udeng.
Usia menjalani perawatan, akhirnya saya berinisiatif menghubungi keluarga di Sukabumi dengan menggunakan kartu sim yang masih terpasang di teleponnya yang telah rusak dihantam puing-puing. Baiknya, saat itu langsung tersambung hingga akhirnya dijemput ke Banten.
“Saya cek, telepon saya masih ada di saku. Kemudian kartunya di buka dan menghubungi adik di Sukabumi untuk minta dijemput, sesampai di Sukabumi sempat diperiksa di RS Kartika hingga akhirnya pulang kerumah karena anehnya kondisi badan yang awalnya pada patah kembali ke tempat semula karena di obati secara tradisional di Banten,” beber Udeng.
Dalam acara Famili Getring maut tersebut, sebanyak 260 pegawai PLN Induk Depok berangkat ke Pantai Tanjung Lesung tersebut, hingga kini dirinya belum mendapat kabar berapa temannya yang selamat maupun yang menjadi korban.
“Belum jelas pasti berapa teman saya yang menjadi korban meninggal dunia, saya harap bisa selamat saja. Tapi saya mendapat kabar puluhan karyawan PLN meninggal, kejadian ini menjadi pengalaman sekaligus pelajaran penting dalam hidup saya. Alhamdulilah, ALLAH masih memberikan kesempatan hidup bagi saya sehingga bisa kembali berkumpul dengan keluarga,” tutup Udeng. (upi)




