Sudah Ada 13 Kasus TPPO di Sukabumi, Januari-Awal Juni 2022

Tindak-Pidana-Perdagangan-Orang-(TPPO)-Sukabumi

SUKABUMI – Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Jawa Barat, mencatat sepanjang awal Januari 2022 hingga awal Juni 2022 terdapat 13 kasus warga Kota dan Kabupaten Sukabumi menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Para korban TPPO ini, mereka merupakan buruh migran yang mengadu nasib untuk bekerja ke luar negeri.

Ketua SBMI Jawa Barat, Jejen Nurjanah kepada Radar Sukabumi mengatakan, 13 kasus TPPO ini terdiri dari empat korban merupakan asal warga Kota Sukabumi dan sembilan korban lainnya berasal dari Kabupaten Sukabumi.

Bacaan Lainnya

“Mayortasi korban TPPO ini karena mereka merupakan pekerja migran yang berangkat bekerja ke luar negeri secara non prosedural atau illegal,” kata Jejen Nurjanah kepada Rada Sukabumi, Selasa (07/06).

Wilayah Kabupaten Sukabumi merupakan salah satu daerah terbanyak yang menjadi korban TPPO di luar negeri. Para korban ini berasal dari berbagai kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Sukabumi. Seperti Kecamatan Nagrak, Cidahu, Sukaraja, Sukalarang, Cireunghas dan Kecamatan Cisaat.

“Mereka itu,mayoritas mempunyai persoalan di luar negeri karena dari majikannya tidak ada kontrak atau tidak ada perjanjian kerja,” ujarnya.

Dari belasan kasus TPPO ini, kebanyakan bekerja ke Negara Timur Tengah dengan menngunakan jalur non prosedural. Sebab itu, untuk mengantisipasi terjadinya kasus serupa, SBMI menghimbau kepada seluruh warga agar tidak tergoda pada iming-iming bekerja di luar negeri sebagai pekerja migran.

Terlebih lagi, jika mereka bekerja ke negara timur tengah. Lantaran, hingga saat ini untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga ke beberapa negara di bagian timur tengah itu, masih moratorium.

“Kami mengimbau kaum wanita untuk tidak tergoda dengan iming-iming kerja di luar negeri, seperti menjadi buruh migran. Iya, wanita Sukabumi tidak perlu lagi bekerja di luar negeri, tetapi alangkah baiknya bekerja saja di daerah ini karena banyak potensi yang bisa menghasilkan uang,” paparnya.

Pihaknya menambahkan, bahwa wanita Sukabumi harus berani menolak godaan bekerja di luar negeri. Karena banyak yang harus dikorbankan seperti meninggalkan anaknya, suami, ataupun keluarga tercintanaya.

“Selain itu, belum tentu di luar negeri mendapatkan tempat yang layak karena tidak sedikit juga pekerja dari buruh migran yang pulang dalam kondisi bekas disiksa, tidak dibayarkan haknya, dan lain sebagainya,” pungkasnya. (den/radar sukabumi)

Ketua SBMI Jawa Barat, Jejen Nurjanah
Ketua SBMI Jawa Barat, Jejen Nurjanah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan