Selain itu, masih kata Agus, faktor penyebab retakan ini juga diakibatkan faktor geologi setempat dan gerakan tanah tipe rayapan yang dikontrol perlapisan batuan sedimen dari formasi beser yang terdiri dari matrial sedimen bersifat lolos air dan matrial kedap air dari unit lempung secara umum. “Ini terjadi karena wilayah tersebut berada di dalam alur air menuju lembah di bawahnya,” paparnya.
Untuk memastikan hal tersebut, PVMBG dari Badan Geologi Mitigasi Gerakan Tanah segera melakukan peninjauan dan kajian lapangan secara khusus ke lokasi pergerakan tanah di Kampung Ciherang, Desa Cijangkar, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi. “Insya Allah pada jadwalnya, dalam minggu ini kita akan segera melakukan kajian ke lapangan,” ujarnya.
Untuk meminimalisir terjadinya risiko bencana alam dari pergerakan tanah tersebut, maka PVMBG mengimbau kepada seluruh warga terdampak agar terus meningkatkan kewaspadannya, terutama saat intensitas curah hujan tinggi. Karena menurut Agus, saat musim hujan maka faktor pendorong air yang masuk ke dalam rekahan tanah masih tinggi. “Kami mengimbau warga terdampak bencana tanah bergerak ini untuk tidak menggunakan kembali lahan tersebut sebagai tempat pemukiman, tapi jadikanlah sebagai kebun atau hutan kembali karena ada periode pergerakannya yang terkolerasi dengan curah hujan setiap tahun,” paparnya.
Selain itu, Agus menilai terkait deliniasi wilayah terdapat kecendrungan arah pergerakan dan potensi ancaman ke depan. “Relokasi menentukan lokasi yang aman dari bencana itulah upaya mitigasi, agar tidak ada korban,” tandasnya.






