Pertama beli dua pasang love bird jenis pastel dan dakocan. Dari dua pasang itu beranak pinak sampai jadi 50 pasang, katanya.
Masa-masa itu merupakan era keemasan usaha ternak love bird. Permintaan yang tinggi menjadi ladang bisnis yang menggiurkan. Dalam sebulan, omzet yang diraup Tugas mencapai puluhan juta. Melebihi gaji pokoknya sebagai PNS di Bakesbangpol Kota Madiun.
Dulu yang ramai itu lutino, harganya bisa sampai Rp 10 juta, paparnya.
Tidak selamanya bisnis yang dilakoni Tugas berjalan mulus. Dua tahun sejak menggeluti usaha tersebut, puluhan love bird peliharannya mati akibat terserang virus. Ditandai mata berair dan membengkak. Tugas pun merugi hingga belasan juta rupiah.
Saat itu cuacanya ekstrem, jadi semakin memperburuk keadaan. Saya bawa berobat, yang ngobati nggak mau karena takut piaraannya tertular, kenangnya.
Belakangan dia menemukan solusi agar burung piaraannya tidak semakin banyak yang mati. Tugas membongkar kandang dan memisahkan antara hewan yang sakit dan sehat. Pun tidak lagi menggunakan kandang koloni, melainkan jenis baterai.


