Penjahat Besar Bernama Ekonomi

  • Whatsapp

“Satu dolar Amerika berapa rupiah?” Kata kunci ini yang paling sering orang akses saat berhadapan dengan Google. Tujuannya beragam, ada yang sekadar kepo soal update nilai tukar rupiah, riset data, atau kepentingan nyinyir belaka. Dan saat tulisan ini saya buat, ketika saya ketik “satu dolar berapa rupiah?” Google menjawab, “15.221,75 rupiah Indonesia. Data per tanggal 15 Oktober 2018 pukul 08.20 WIB.

Oke, sementara cukup sekian dulu bicara tentang dolar dan rupiah. Hal paling utama yang ingin ditegaskan dari tulisan ini adalah sebuah narasi tentang pentingnya ekonomi. Mohon jangan terjebak dengan dua kosa kata pertama pada judul tersebut. Mohon jangan dipolitisi. Mohon jangan nyinyir. Dan, mohon bersabar ini ujian.

Bacaan Lainnya

Ada apa dengan ekonomi Indonesia? Akan ada dua jawaban, yang datang dari dua kubu. Kubu yang saat ini bergelut dengan sesuatu bernama politik. Ekonomi kita sedang sehat, jawab kubu yang satu. Oh tidak, ekonomi kita sedang sakit, timpal kubu yang dua. Kondisi perekonomian ditentukan oleh sudut pandang politik. Tergantung narasi dan kepentingannya.

Faktanya bagaimana? Tidak ada fakta yang nyata saat ini. Ketika suatu fakta diungkap lengkap dengan data, fakta itu berpotensi menjadi fakta fiksi. Atau kekiniannya disebut fakta hoax. Kubu satu ungkap fakta dan data, dibantah oleh fakta dan data yang lain. Walhasil, semua bertengkar dengan fakta dan data masing-masing. Ini menjadi dagelan, atau drama, atau telenovela. Sedangkan publik yang menonton pertengkaran fakta dan data itu, sedang kelaparan, kehausan, kedinginan dan kesakitan.

Bahwa fakta yang sebenarnya, banyak orang yang susah cari uang. Bagi rakyat jelata, ekonomi itu adalah uang. Anda bisa tanya pertanyaaan ini kepada Si Abah Asep, seorang kuli segala urusan yang wara-wiri di Jalan Pelabuhan II Sukabumi. Tongkrongannya otentik, lusuh, tapi dia punya harga diri dan martabat. Pernah dikasih uang lantaran dianggap pengemis, Si Abah tolak. Bagi dia, ekonomi itu adalah uang.

Silahkan bantah argumen Si Abah Asep dengan fakta dan data yang ilmiah dari pengamat apa, dari surveyor apa, atau dari universitas apa. Dia tidak akan berbicara tentang fakta dan data, sebab itu semua ada di tubuh dia. Tubuh dia adalah narasi yang paling fakta dan nyata tentang kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Ekonomi yang jahat. Bukan sakit, bukan pula sehat ya. Khawatir dipolitisir.

Kita bergeser ke sampel situasi kondisi Ekonomi lainnya. Di lain hal, kejahatan kini menggila. Begal, kian diberantas, kian beringas. Para begal melakukan begal, semata demi uang. Ya, demi ekonomi. Mereka butuh beli makan, beli rokok, beli bensin, beli miras, beli narkoba, hingga beli pelacur. Itu kebutuhan ekonomi para begal. Kenapa mereka menjadi begal? Karena ekonomi yang jahat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *