Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Kecamatan Nyalindung, Solihin mengatakan, pihaknya membenarkan soal puluhan warga pengungsian yang terserang berbagai penyakit.
Seperti, penyakit, hipertensi, sakit kepala, gatal-gatal, tekanan darah tinggi dan rendah serta pegal-pegal.
Hal ini, terjadi di pengaruhi oleh berbagai faktor. Di antaranya, Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), sarana air tidak bersih dan kondisi pengungsian yang berdebu.
“Kebanyakan warga terkena penyakit pegal-pegal dan tekanan dari tinggi. Mereka sering berobat setiap harinya, selepas Bada Magrib. Karena, siang harinya warga melakukan aktifitas seperti biasanya,” jelas Solihin kepada Radar Sukabumi.
Untuk itu, sejak wilayah Kecamatan Nyalindung ditetapkan Bupati Sukabumi sebagai tanggap darurat bencana, maka Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi melalui Puskesmas Kecamatan Nyalindung, langsung mendirikan Posko Kesehatan di lokasi pengungsian yang jaraknya sekitar 500 meter dari lokasi bencana pergerakan tanah.
“Pokso kesehatan ini, kami buka selama 24 jam dan dilayani oleh 2 petugas. Sebab itu, bagi warga yang punya keluhan sakit agar segera menemui petugas kesehatan di lokasi pengungsian,” pungkasnya.
PENGOBATAN : Petugas medis saat memberikan pengobatan kepada warga pengungsi korban bencana pergerakan tanah di Kampung Gunungbatu, Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung.
(den/t)






