Pencemar Sungai Cimahi Terancam Pidana

DLH Kabupaten Sukabumi saat mengece bak penampung limbah PT DGS di Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak, (15/3).

Sementara itu, Manager HRD PT DGS, Abdul Haris mengaku bahwa perusahaannya itu membuang limbah produksi ke Sungai Cimahi. Namun menurutnya, sebelum limbah dibuang ke sungai, terlebih dahulu limbah tersebut disaring dengan menggunakan alat khusus.

“Memang limbah di perusahaan kami ini dibuang ke Sungai Cimahi, tapi itu sudah melalui water treatment. Jadi tidak mungkin pencemaran ini akibat limbah dari perusahaan kami,” kilahnya.

Bacaan Lainnya

Setelah tim dari DLH meninjau lokasi, Abdul Haris mengaku mendapatkan saran supaya bak penampung limbah diperluas. Ia pun berjanji akan segera melaksanakan apa yang ditegaskan DLH Kabupaten Sukabumi. “Kami akan mengikuti petunjuk yang disarankan dinas tadi,” singkatnya.

Seperti yang diketahui, pada Kamis (14/3) lalu, Sungai Cimahi di Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak diduga tercemar limbah perusahaan.

Selain dampaknya pada kondisi air yang berubah dan menimbulkan bau tak sedap, juga banyak ikan yang mati mendadak. Masyarakat setempat pun langsung naik pitam dan meminta aparat penegak hukum menyelidikinya.

Admin Group Sukabumi Mancing Liar Club, Wahyu menduga, limbah tersebut berasal dari pabrik garmen. Karena dari aromanya seperti bau pemutih pakaian disertai dengan buih yang cukup banyak.

Namun demikan, Wahyu tidak bisa memastikan sumber limbah tersebut. “Saya menduga ini timbul akibat limbah washing pakaian. Karena memang baunya seperti pemutih pakaian,” cetusnya.

Penelusuran Radar Sukabumi, sepanjang lokasi Sungai Cimahi ini, terdapat satu perusahaan garmen yakni PT DGS dan satu perusahaan tambang pasir kuarsa, PT Gunung Walat Perkasa (GWP).

Sungai yang diduga tercemar ini, warna dan baunya berubah. Warnanya berubah keruh dan sedikit keabu-abuan, serta terdapat busa di permukaannya.

Namun paling mengganggu, tercium bau sangat menyengat. Sehingga nampak beberapa jenis ikan yang meninggal di area tersebut. Waga setempat menduga, perubahan itu akibat limbah perusahaan yang sengaja dibuang ke sungai. (Bam/d)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan