BERITA UTAMA

Misteri Suara Dentuman Terjawab

×

Misteri Suara Dentuman Terjawab

Sebarkan artikel ini
Aktivitas gungung Anak Krakatau terus mengali peningkatan. Bahkan, BMKG meningkatkan statusnya dari level II (waspada) menjadi level III (siaga) karena ada peningkatan aktivitas.

Sementara itu Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono menuturkan BMKG terus memantau kondisi GAK. Apalagi status level gunung tersebut sudah dinaikkan dari level II ke level III. ’’Peringatan kewaspadaan potensi tsunami di wilayah pantai selat Sunda dalam radius 500 meter hingga 1 km masih tetap berlaku,’’ kata dia.

Peningkatan status Gunung Anak Krakatau dari level II (waspada) menjadi level III (siaga) karena ada peningkatan aktivitas. Data dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan semakin sering letusan gunung tersebut. Jumlahnya sampai 14 kali letusan dalam satu menit. Sedangkan getaran yang dihasilkan letusan itu belum tercatat cukup besar.

Bank bjb Tandamata

Sekretaris Badan Geologi Kementerian ESDM Antonius Ratdomopurbo menuturkan bila dihitung dalam magnitudo getaran yang ditimbulkan dari letusan itu rata-rata M 0,5 hingga 1. Saat ini, seismogram atau alat yang dipergunakan untuk merekam gerakan tanah milik badan tersebut didetailkan agar bisa menangkap getaran yang sangat kecil.

”Kalau 14 kali permenit itu magnitudonya 0,1 sampai 0,2, kecil banget kalau di seismogram. Jadi sebenarnya dari sisi magnitudonya itu tak ada apa-apa,” ujar Purbo di kantor Kementerian ESDM, kemarin (27/12).

Letusan Gunug Anak Krakatau berjenis strombolian yang disertai lontaran lava pijar dan awan panas. Pada Rabu (26/12) terpantau letusan berupa awan panas dan surtseyan. Awan panas itu yang mengakibatkan hujan abu mengarah ke baratdaya. Ada juga yang mengarah ke timur menyebabkan hujan abu vulkanik tipis jatuh di Kota Cilegon dan sebagian Serang pada Rabu pukul 17.15 WIB.

Purbo mengungkapkan letusan saat ini memang belum bisa secara langsung memicu tsunami. Karena material lava yang keluar bersifat mengalir sehingga pelan-pelan masuk ke dalam laut. Untuk mengetahui potensi longsor pada Gunung Anak Krakatau tidak terlalu mudah.

Berbeda dengan di daratan, saat sebelum longsor terlihat ada indikasi seperti retakan pada tanah. ”Di situ ada juga begitu (retakan). Tapi kan kita tidak berani mendekat. Kecuali kita mau apalah mempercepat proses dari hidup ke mati,” tambah dia.