Sebelumnya, Radar Sukabumi penah mengulas, secara geometri sesar Cimandiri merupakan sesar atau patahan geser aktif sepanjang 100 km, memanjang mulai dari muara Sungai Cimandiri di Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, lalu mengarah ke timur laut melewati Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Subang. Bentuk morfologinya terekam dalam bentangan Teluk Pelabuhan Ratu hingga selatan Kota Sukabumi berupa kelurusan sepanjang lembah Cimandiri.
Pergerakan sesar geser ini dapat terekam dari kenampakan pada bawah permukaannya. Jika diamati dari penampang bawah permukaan data seismik, maka akan nampak struktur bunga. Struktur bunga ini muncul karena seretan dari pergerakan sesar mendatar. Struktur bunga ini terekam pada kawasan Pelabuhanratu, yang diteliti oleh Pakde Susilohadi tahun 2005 silam.
Dan memang, jika ditinjau dari titik episenternya, Gempa Sukabumi 2020 ini berada di jalur Sesar Cimandiri, lebih tepatnya lagi berada pada segmen Citarik-Cadasmalang, salah satu dari 5 segmen yang berada di komplek Sesar Cimandiri.
Tahun 2007 lalu, Paklek dan Bulek di Geodesi ITB pernah menceritakan bahwa Sesar Cimandiri terbagi menjadi 5 segmen. Segmen 1: antara Cimandiri Pelabuhan Ratu-Citarik. Segmen 2: Citarik-Cadasmalang. Segmen 3: Ciceureum-Cirampo. Segmen 4: Cirampo-Pangleseran. Segmen 5: Pangleseran-Gandasoli. Lain lagi dengan hasil analisis dari Eyang Emmi Suparka dan paklek bulek di ITB yang membaginya hanya menjadi 4 segmen saja. Segmen : Pelabuhanratu dan Cibuntu, Segmen 2: Padabeunghar, segmen 3 : Cikundul dan Baros, Segmen 4 : Sukaraja. Keempatnya dibagi berdasarkan karakteristik morfologi yang diamati secara langsung di lapangan.
Ketiga, soal potensi tsunami raksasa setinggi 20 meter di wilayah Pantai Selatan di Kabupaten Sukabumi, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga pernah mengatakan, bahwa potensi itu tetap berlaku dan perlu diwaspadai.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah dengan mencegah kepanikan masyarakat merespons hasil kajian peneliti tentang potensi tsunami raksasa setinggi 20 meter di wilayah selatan Pulau Jawa akibat gempa megathrust juga perlu dilakukan. Langkah-langkah itu tidak bisa dilepaskan dari edukasi masyarakat agar mampu melakukan perlindungan dan penyelamatan diri terhadap bencana gempa bumi dan tsunami. Termasuk, merespons peringatan dini secara cepat dan tepat.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Pos Gabungan Siaga Bencana Jawa barat yang juga sebagai ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Jawa Barat H Soma Suparsa menerangkan, sampai detik ini tidak ada alat secanggih apapapun untuk memprediksi kapan terjadinya bencana tersebut. Yang bisa dilakukan hanyalah berlatih dan terus berlatih untuk mengurangi resiko bencana akibat bencana alam.
Menurut orang yang akrab disapa abah soma ini, kondisi alam di Jawa Barat tidak bisa tenang begitu saja. Betapa tidak, Melihat letak geografisnya sangat rawan terjadinya bencana. Termasuk kondisi Kabupaten dan Kota Sukabumi dibanyangi dengan bencana mulai dari letusan Gunung berapi Gunung Gede Pangrango dan Gunung salak.
“Yang perlu dilakukan saat ini memberikan pencerahan kepada masyarakat agar siap menghadapi bencana, “jelas orang yang merupakan penggiat alam terbuka yang juga anggota Wanadri dengan NRP W 498 Kabut Rimba (KR).






