BERITA UTAMAKABUPATEN SUKABUMI

Mengenal Sejarah Bencana Besar di Sukabumi, Ini Yang Perlu Diwaspadai

×

Mengenal Sejarah Bencana Besar di Sukabumi, Ini Yang Perlu Diwaspadai

Sebarkan artikel ini
MEMBERSIHKAN : Salah seorang warga di Kampung Cibuntu, Desa Pasawahan, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi saat membersihkan rumahnya yang terkena bencana banjir bandang

Peristiwan besar itu Letusan Gunung Salak berikutnya terjadi tak lebih dari seabad setelah letusan pertama, yaitu pada 1761 dan 1780. Namun, dua letusan di abad ke 17 itu tak memiliki skala letusan yang besar seperti letusan pertama. Terakhir, Gunung Salak meletupkan aktivitas vulkanisnya pada 1938 berupa erupsi freatik yang terjadi di kawah Cikuluwung Putri.

Bank bjb Tandamata

Kini, Gunung Salak masih menyandang status sebagai gunung api aktif. Selama ratusan tahun sejak letusan hebat tahun 1699 Gunung Salak masih tertidur. Secara geologis, Gunung Salak merupakan gunung api purba yang terdiri dari beberapa puncak. Puncak tertinggi Gunung Salak atau yang sering disebut sebagai Puncak Salak I memiliki ketinggian puncak 2.211 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Aktivitas vulkanik di Gunung Salak termasuk dalam kategori Stratovolcano tipe A (gunung yang menunjukan aktivitasnya sejak tahun 1.600). Kini, tercatat ada beberapa kawah aktif di puncak Gunung Salak, yaitu kawah terbesar yang diberi nama Kawah Ratu, lalu Kawah Cikaluwung Putri dan Kawah Hirup yang menjadi bagian juga dari sistem vulkanis Kawah Ratu.

Kemudian Soal Gempa yang diakibatkan sesar Cimandiri, Radar Sukabumi mencatat berdasarkan potensi hasil kajian Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG), wilayah pesisir Sukabumi termasuk zona megathurst yang dapat memicu gempa dan tsunami. Catatan sejarah menunjukkan bahwa wilayah selatan Jawa Barat dan Banten sudah beberapa kali terjadi gempa kuat, seperti pada 22 Januari 1780 (M 8,5), 27 Februari 1903 (M 8,1), dan 17 Juli 2006 (M 7,8). Hasil kajian BMKG yang dilakukan pada tahun 2011 menunjukkan bahwa zona megathrust selatan Sukabumi memiliki magnitudo gempa tertarget hingga M 8,7.

Berdasarkan catatan, Sesar Cimandiri memang sudah beberapa kali membuat ulah. Dalam satu abad ini, setidaknya, 7 kali gempa besar pernah tercatat, diantaranya gempa bumi Pelabuhan Ratu (1900), gempa bumi Cibadak (1973), gempa bumi Gandasoli (1982), gempa bumi Padalarang (1910), gempa bumi Tanjungsari (1972) dan gempa bumi Conggeang (1948) dan terakhir gempa bumi Sukabumi (2001).