SUKABUMI — Suasana sore itu di Pusat Observasi Bulan (POB) Cibeas, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, terasa berbeda. Ratusan pasang mata menatap langit yang muram, berharap secercah cahaya hilal menembus gumpalan awan pekat. Di balik mendung yang menutup cakrawala, ada harapan besar: penentuan awal Ramadan 1447 H.
Sebagai salah satu titik pemantauan resmi di Jawa Barat, POB Cibeas menjadi pusat perhatian. Forkopimda, tokoh agama, hingga masyarakat hadir dengan khidmat, menyaksikan prosesi rukyatul hilal yang digelar Kementerian Agama Kabupaten Sukabumi.
Namun, alam punya cerita lain. Senja di Teluk Palabuhanratu hanya menampakkan bulatan putih samar, tertutup awan kumulus yang tebal. Data astronomis menunjukkan ijtimak terjadi tepat pukul 18.57 WIB, bertepatan dengan fenomena gerhana matahari cincin.
Zaenurridwan, Wakil Ketua 1 Dewan Hisab Rukyat Kabupaten Sukabumi, menjelaskan bahwa gerhana sering kali membuat hilal sulit terlihat. “Biasanya ketika gerhana, meskipun tinggi hilalnya di atas ufuk, jarang ada yang tampak. Apalagi sekarang hilalnya minus,” ujarnya.
Meski secara teknis hilal berada di bawah ufuk, prosesi rukyat tetap dijalankan. “Ini bagian dari syariat dan prosedur resmi,” tegasnya.
Camat Simpenan, Supendi, menambahkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pengamatan, melainkan simbol kebersamaan umat. “Harapan kami memberikan hasil terbaik bagi seluruh Muslim. Semoga Ramadan nanti berjalan lancar,” katanya penuh doa.
Di antara para ahli rukyat yang hadir, tampak KH Muhammad Anshar Fudhholi, KH Muhammad Yahya, dan KH Asep Saprudin. Semua hasil pengamatan dari POB Cibeas akan segera dilaporkan ke Kementerian Agama Pusat, menjadi bahan pertimbangan Sidang Isbat nasional.
Langit mungkin menutup pandangan, tetapi semangat menyambut Ramadan tetap terbuka lebar. Di balik awan mendung, ada cahaya harapan yang tak pernah padam.(**/hnd)






