JAKARTA — Kisah kiper Tanjung Verde, Vozinha, memang menyentuh hati dan menjadi salah satu cerita paling inspiratif di Piala Dunia 2026. Pada usia 40 tahun, ia tampil gemilang menahan gempuran Spanyol hingga menghasilkan hasil imbang bersejarah 0-0. Namun, yang membuat momen itu semakin emosional adalah kisah pribadi di balik air matanya.
Vozinha, yang nama aslinya Josimar Jose Evora Dias, mengungkapkan bahwa ia menangis karena teringat kakek-nenek yang membesarkannya namun sudah tiada, serta ibunya yang tidak bisa hadir langsung di stadion akibat kendala visa. Meski begitu, dukungan ibunya dari rumah di Pulau Sao Vicente tetap menjadi sumber kekuatan. “Saya mengatakan tidak ada bola yang akan berhasil menjebol gawangnya, dan itu benar-benar terjadi,” kata sang ibu, penuh kebanggaan.
Perjalanan Vozinha menuju panggung dunia jauh dari jalur konvensional. Ia baru memulai karier profesional di usia 25 tahun, sempat hampir menyerah, namun kegigihannya akhirnya membawa Tanjung Verde lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya. Penampilannya melawan Spanyol bukan hanya soal teknik menjaga gawang, tetapi juga simbol ketekunan dan semangat pantang menyerah.






