SUKABUMI – Awal tahun 2026 menjadi periode rawan bencana bagi Kota Sukabumi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi mencatat 44 kejadian bencana sepanjang Januari 2026, dengan total kerugian ditaksir mencapai Rp3,27 miliar.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi, Yoseph Sabaruddin, menjelaskan data tersebut berdasarkan Sistem Informasi Elektronik Data Bencana (SiEdan). Seluruh kejadian tersebar di tujuh kecamatan dan berdampak langsung pada puluhan warga. “Secara agregat, selama Januari tercatat 44 kejadian bencana dengan luas area terdampak sekitar 2.178 hektare. Sebanyak 31 kepala keluarga terdampak dengan total 60 jiwa,” kata Yoseph, Selasa (3/2).
Jenis bencana paling dominan adalah cuaca ekstrem dengan 40 kejadian, disusul kebakaran permukiman sebanyak empat kali. Meski jumlahnya lebih sedikit, kebakaran permukiman justru menyumbang kerugian terbesar, mencapai Rp2,11 miliar. Sementara itu, cuaca ekstrem menimbulkan kerugian sekitar Rp1,16 miliar, dengan kerusakan berupa rumah terdampak, bangunan rusak ringan hingga berat, serta gangguan aktivitas warga. “Secara keseluruhan tercatat 36 unit bangunan rusak, lima di antaranya rusak berat,” paparnya.
Dari sisi wilayah, Kecamatan Gunung Puyuh dan Lembursitu mencatat jumlah kejadian tertinggi, masing-masing delapan kasus. Disusul Kecamatan Warudoyong dengan tujuh kejadian, Baros, Cibeureum, dan Cikole masing-masing enam kejadian, serta Citamiang tiga kejadian.
Yoseph menambahkan, tingginya kejadian cuaca ekstrem pada Januari dipengaruhi kondisi iklim. Berdasarkan analisis Stasiun Klimatologi Jawa Barat, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada fase netral, sementara ENSO menunjukkan La Nina lemah yang diperkirakan masih bertahan di awal 2026. “Peringatan dini curah hujan tinggi juga sempat diberlakukan pada Dasarian III Januari dengan status waspada hingga siaga di sejumlah wilayah Jawa Barat, termasuk Sukabumi,” ujarnya.






