Rumah peninggalan Belanda yang diduga menjadi lokasi kuburan massal ini terletak tepat di atas bukit Cikidang, tidak ada penanda apa pun di kuburan pertama yang berada dikompleks bangunan seluas kurang-lebih 500 meter persegi tersebut.
Kawasan itu hanya berupa tanah lapang yang ditumbuhi rerumputan. Hanya pohon Jambu, yang kini menjadi saksi bisu pembantaian massal tersebut, yang masih tegak berdiri. Di lokasi yang disebut-sebut sebagai kuburan kedua juga tidak ditemukan bekas apa pun yang bisa menjadi petunjuk. Lahan yang berada 100 meter di belakang bangunan itu kini telah menjadi kebun sawit, tapi dikelola perusahaan lain.
“Dulu ada Pak Acep dan Mumuh, sekitar 2015 datang. keduanya merupakan tahanan politik eks 1965. Mereka kesini untuk mencari-cari kabar saudaranya yang hilang sejak kejadian 1965-1966, “terang lilis kembali melanjutakn ceritanya
Dari cerita keduanya (Acep red) dirinya pernah diberitahu, bahwa tahanan PKI yang hilang di Sukabumi diprakirakan sebanyak 300-400 orang. Partai berlogo palu dan arit itu merupakan partai yang pernah populer di Sukabumi. Beragam organisasi sayap, seperti Pemuda Rakyat, BTI, Gerwani, dan Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia, menjamur.
“Katanya, ada dua tempat eksekusi di Sukabumi, pertama disini (pasirlangkap) kedua di dekat sungai Cibareno perbatasan Sukabumi dengan Banten,”tutup Lisnawati. (hnd)






