SUKABUMI – Harapan ratusan warga Kampung Nyalindung, Desa Pasirsuren, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, untuk relokasi pascabencana pergerakan tanah, hingga kini belum juga terealisasi. Sudah lima tahun berlalu sejak bencana pertama terjadi, namun belum ada langkah konkret dari pemerintah.
Muhammad Dahlan (23), salah satu warga terdampak, mengaku kecewa karena hanya menerima janji tanpa kepastian. Setiap musim hujan, pergerakan tanah kembali terjadi dan membuat warga hidup dalam ketakutan.
“Pergerakan tanah di Kampung Nyalindung sudah terjadi sejak lima tahun lalu. Tapi belum ada relokasi. Warga hanya dijanjikan. Setiap tahun pasti ada pergerakan tanah saat hujan turun. Sampai sekarang belum ada tindak lanjut dari pemerintah, baik desa maupun kecamatan,” ujarnya.
Dahlan menyebut, pemerintah sempat menjanjikan relokasi ke rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di Cikeong. Namun, rencana itu batal tanpa penjelasan. Alternatif relokasi ke lahan milik PTPN di depan kantor desa pun dibatalkan karena dianggap masih berada di zona merah.
“Sudah diukur dan dihitung, tapi batal lagi. Alasannya karena masih dekat zona rawan,” tambahnya.
Tak hanya permukiman, infrastruktur jalan di wilayah tersebut juga terdampak. Sejumlah titik jalan mengalami amblas dan hanya bisa dilalui satu arah. Warga bahkan harus turun tangan mengatur lalu lintas demi mencegah kecelakaan.
“Jalan yang amblas itu sekarang cuma bisa satu arah. Banyak lubang dan tanahnya labil. Sudah banyak yang jadi korban,” tutur Dahlan.
Berdasarkan data sementara tahun 2022, sedikitnya 190 rumah terdampak pergerakan tanah. Jumlah itu diperkirakan terus bertambah hingga mencapai sekitar 200 rumah saat ini.






