SUKABUMI — Duka mendalam masih menyelimuti Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, setelah kebakaran hebat meluluhlantakkan puluhan rumah adat beserta lumbung padi yang menjadi simbol ketahanan pangan masyarakat.
Menindaklanjuti bencana tersebut, Pemerintah Kabupaten Sukabumi menetapkan status tanggap darurat melalui Keputusan Bupati Nomor 300.2.1/Kep.633-BPBD/2026. Status ini berlaku sepekan, mulai 25 hingga 31 Juli 2026, dan akan dievaluasi sesuai perkembangan penanganan.
Sekda Kabupaten Sukabumi, Ade Suryaman, menegaskan bahwa fokus pemerintah saat ini bukan rekonstruksi, melainkan pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak. “Makanan, minuman, air bersih, dan pelayanan darurat menjadi prioritas utama. Rekonstruksi akan dilakukan setelah masa tanggap darurat selesai,” ujarnya.
BPBD Kabupaten Sukabumi langsung mengaktifkan dapur umum dan menyalurkan bantuan berupa sembako, perlengkapan tidur, peralatan memasak, hingga mobil tangki air bersih. Sebagian besar warga memilih mengungsi di rumah kerabat, sementara tenda darurat tetap disiapkan sebagai antisipasi.
Kepala Pelaksana BPBD, Eki Radiana Rizki, menyebutkan kebakaran menghanguskan 51 rumah adat, termasuk Imah Gede, serta 49 leuit yang menyimpan stok padi masyarakat. “Bencana ini berdampak pada 52 kepala keluarga atau 163 jiwa. Selain permukiman, fasilitas umum seperti PAUD, masjid, MCK, dan warung juga ikut terbakar,” jelasnya.
Ketua Panitia Logistik Bencana, Edik Supriatna, menambahkan bahwa hilangnya puluhan leuit menjadi pukulan berat bagi ketahanan pangan masyarakat adat. “Sekitar 60 persen stok pangan ikut terbakar. Stok yang tersisa diperkirakan hanya cukup untuk lima tahun ke depan,” ungkapnya.





