Gara-gara Teror Ular di Sukabumi, SABU jadi Mahal?

  • Whatsapp
Teror Ular Bojongsoka Sukabumi

SUKABUMI – Bupati Sukabumi Marwan Hamami menyebutkan bahwa soal mahalnya vial Serum Anti Bisa Ular (SABU) yang dikeluhkan warga Kampung Bojongsoka, Desa Limusnunggal, Kecamatan Bantargadung, hanya miss komunikasi.

“Jadi gini, itu mah ada miss komunikasi, SABU itu tidak dalam program seperti obat pada umumnya. Satu pil harga sudah jelas,” ujar Marwan usai Rapat Paripurna bersama DPRD Kabupaten Sukabumi, Senin (14/6).

Bacaan Lainnya

Ia mengaku akan mengusahakan agar memiliki stol vial SABU cukup. Sebab, itu program dari pemerintah provinsi. Bahkan menurut Marwan, rumah sakit Jampang Kulon yang notabene milik provinsi tidak memiliki stok SABU.

“Kadang-kadang diserahkan ke Puskesmas Surade, kita juga ingin dorong karena barangnya mahal dan masa kadaluarsanya juga pendek. Yang jelas daerah-daerah yang banyak kejadian dipatuk ular akan didorong kesediannya,” tegasnya.

“Intinya ada kesalahan komunikasi, karena jika prosedur ditempuh harga apotek jelas, kalau tidak mampu tinggal ngomong,” tandasnya.

Sebelumnya, puluhan warga Desa Limusnunggal diteror ular gibug atau ular tanah. Bahkan tahun 2021 ini sekitar 20 orang menjadi korban gigitan ular berwarna coklat belang tersebut dan satu di antaranya meninggal dunia.

Warga digigit ular rata-rata enggan berobat ke rumah sakit lantaran biaya membeli serum anti bisa ular (Sabu) dinilai cukup mahal. Sehingga, mereka memilih berobat ke pawang ular di wilayahnya.

Kades Limusnunggal, Rusman berharap kepada pemerintah daerah agar ada pengadaan sabu, minimal di Puskemas Bantargadung. Hal ini untuk mengantisipasi jika ada warga yang digigit ular, karena jarak ke rumah sakit cukup jauh.

“Setelah adanya ular ini, warga yang ingin ke kebun takut dan waspada. Kami juga mengimbau kepada seluruh masyarakat Desa Limusnungga, khusunya petani ketika berangkat ke kebun agar memakai perlengkapn pertanian. Misalnya sepatu bot dan sebagainya,” pungkas Rusman.

Keresahan maraknya warga yang digigit ular dan mahalnya harga vial Sabu ini pun sebelumnya dikeluhkan Tokoh masyarakat Desa Limusnunggal, dalam unggahan di media sosial Facebook.

Melalui akun media sosial miliknya ‘Putra Pasundan’, Tokmas bernama Maman Surachman itu juga menceritakan soal sudah ada beberapa petani yang dipatuk ular, bahkan ada seorang ustaz yang meninggal dunia karena patukan ular. Unggahan Maman juga ditujukan kepada Bupati Sukabumi. (cr1/d)

Pos terkait