SUKABUMI, RADARSUKABUMI.com – Gempa berkekuatan 5,2 SR skala richter (SR) yang dimutakhirkan menjadi 4,9 SR magnitudo di wilayah Banten, berdampak ke wilayah Kabupaten Sukabumi. Sedikitnya empat rumah warga mengalami kerusakan, namun beruntung tidak sampai memakan korban jiwa.
Informasi yang dihimpun Radar Sukabumi, gempa yang terjadi sekira pukul 21.25 WIB Minggu (28/7) lalu ini merusak satu rumah di Kampung Pamukiman, RT 2/9, Desa Gunung Tanjung, Kecamatan Cisolok, satu rumah di Kampung Pamengpeuk, RT 1/2, Desa Cihamerang, Kecamatan Kabandungan dan satu rumah di Kampung Pasir Haur, Desa Cihamerang, Kecamatan Kabandungan serta satu rumah lainnya berada di Kampung Cipatuguran, Desa Jayanti, Kecamatan Palabuhanratu.
“Hasil dari penyisiran petugas di lapangan, dari 47 kecamatan yang ada, hanya tiga kecamatan yang terdampak dari guncanagan gempa itu. Adalah Kecamatan Cisolok, Kabandungan dan Kecamatan Palabuhanratu,” jelas Koordinator Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna kepada Radar Sukabumi melalui telepon selulernya, kemarin (29/7).
Hasil dari assessment di lapangan, sambung Daeng, rumah warga mengalami kerusakan dengan klasifikasi sedang dan berat. Namun beruntungnya, tidak ada korban baik luka-luka ataupun meninggal dunia.
“Kerusakan hanya pada atap, plafon ambruk dan dinding rumah yang jebol. Untuk jumlah kerugian, kami belum mengetahuinya secara pasti. Kami masih fokus pada penanganan pasca bencananya,” tandasnya.
Menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, seluruh keluarga korban gempa tersebut sudah dievakuasi ke rumah saudara terdekatnya.
“Petugas di lapangan bersama warga dan Muspika setempat sudah gotong-royong membersihkan puing-puing bangunan rumah. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini, kami dapat segera memberikan bantuan untuk seluruh korban yang terdampak bencana ini,” timaplnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, gempa dengan kekuatan 5,2 SR skala richter (SR) magnitudo mengguncang wilayah Banten, pada Minggu (28/7) sekira pukul 21.25 WIB ini, terasa sampai Sukabumi. Staf observasi stasiun geofisika Bandung, Muhamad Nur W mengatakan, gempa bumi tektonik yang mengguncak wilayah Banten, Jakarta dan Jawa Barat ini, tidak berpotensi terhadap bencana tsunami.
“Hasil analisis BMKG menunjukkan, gempabumi ini memiliki kekuatan 5,2 SR yang selanjutnya dimutakhirkan menjadi 4,9 SR,” jelas Muhamad Nur kepada Radar Sukabumi melalui telepon selulernya.
Episenter gempa bumi ini, terletak pada koordinat 7,39 LS dan 105,98 BT atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 76 kilometer arah Barat Daya Kota Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, pada kedalaman 44 kilometer.
“Gempa bumi di wilayah Selatan Sukabumi ini, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, merupakan gempa bumi berkedalaman dangkal diakibatkan oleh aktivitas subduksi Lempeng Indonesia-Australia yang menyusup ke bawah Lempeng Eurasia. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa, gempa bumi ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan obliq naik,’ timpalnya.
Lebih Lanjut ia menjelaskan, dampak gempa bumi berdasarkan laporan masyarakat dirasakan di wilayah Palabuhanratu, Cisolok, Malingping dan Sukabumi Selatan dalam skala intensitas III MMI. Sedangkan Depok, Tangerang, Serang, Rangkasbitung , Sawarna, Panggarangan, Menes, Carita dan Munjul II-III MMI. Untuk wilayah Lembang, Jakarta dan Karawang II MMI.
“Hingga saat ini, belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi tidak berpotensi tsunami. Ya, hingga pukul 22.01 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempabumi susulan,” tandasnya.
Untuk itu, pihaknya menghimbau Kepada masyarakat agar tetap tenang dan tak terpengaruh oleh isu yang tak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal yang cukup tahan terhadap guncangan gempa ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan.
“Mohon cermati dan terus berlatih langkah-langkah praktis untuk antisipasi bahaya gempa bumi. Baik pada saat persiapan sebelum gempa, maupun saat dan setelah gempa bumi,” paparnya.
Ketika disinggung mengenai apakah ada hubungannya dengan aktivitas erupsi Gunung Tangkuban Perahu, Bandung, pihaknya belum bisa menjawab. “Saya belum bisa memberikan keterangan soal ini, apakah gempa Banten itu ada hubungannya dengan peristiwa erupsi Gunung Tangkuban Perahu atau tida. Sebab, untuk menyatakan hal ini, mesti ada kajian dan penelitian lebih dalam lagi,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik (KL) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Maman Suherman saat ini pihaknya sudah mengintruksikan kepada seluruh anggota dan relawannya untuk melakukan penyisiran dan pendataan di seluruh wilayah Kabupaten Sukabumi. “Namun berdasarkan laporan sementara, kami belum menerima informasi bahwa ada warga maupun bangunan yang rusak akibat guncangan gempa ini,’ imbuhnya
Meski demikian, pihaknya menghimbau kepada seluruh warga Kabupaten Sukabumi untuk meningkatkan kewaspadaannya, bila terjadi gempa bumi. Lantaran, menurutnya wilayah kabupaten Sukabumi ini, berpotensi terjadi gempa. “Ya, gempa ini pasti ada untuk wilayah Sukabumi, karena ada patahan atau sesar sungai Cimandiri,” pungkasnya.
(Den/d)






