SUKABUMI — Potret pembangunan di Kabupaten Sukabumi memang belum merata sepenuhnya, terutama bagi wilayah selatan kabupaten terluas kedua se-Jawa Bali ini. Buktinya di daerah Kedusunan Cilele, Desa Sirnasari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi masih ada warganya yang menantang maut setiap hari dengan melintasi derasnya sungai cikaso.
Bahkan berdasarkan informasi yang dihimpun dilapangan, sejumlah pelajar dari jenjangn Sekolah Dasar (SD), SMP hingga SMA terpaksa melintasi sungai setiap harinya. Hal itu, membuat ke prihatinan tersendiri bagi daerah-daerah yang terpecil yang belum sepenuhnya tersentuh pemerintah.
Kepala Desa setempat juga membenarkan dan ikut merasa prihatin dengan kondisi warganya. Menurutnya, jembatan yang diharapkan puluhan tahun ini tidak kunjung terlaksana. Kalaupun menggunakan anggaran desa tentunya saja hal itu tidak akan mampu mengingat jembatan tersebut panjangnya hampir 100 meter.
Kenapa warga dan pelajar masih nekat menggunakan jalan tersebut, pasalnya jalan tersebut merupakan jalan terdekat menuju tempat publik. Seperti, sekolah, pasar, puskesmas dan area publik lainnya.
“Tidak ada jembatan di sungai Cikaso itu, sejak zaman dahulu, karena belum pernah dibangun oleh pemerintah. Iya, kalau pemerintah desa membangun jembatan dari bambu itu, tidak memungkinkan karena panjang jembatannya hampir 100 meter,” kata Bangbang kepada Radar Sukabumi pada Selasa (11/10).
Pihaknya mengaku prihatin melihat kondisi warganya. Karena hampir setiap hari warga dan belasan siswa SD harus melintasi sungai tersebut dengan mempertaruhkan nyawannya. Meskipun mereka sudah buka sepatu, tetapi rok atau celana panjang para siswa tetap basah.
“Kalau untuk siswa di usia yang 8 tahun ke bawah, mereka selalu digendong oleh orang tuanya untuk bisa menyeberang sungai menggunakan rakit,” paparnya.
Jembatan di Sungai Cikaso ini, sangat dibutuhkan warga sekitar. Khsususnya untuk di Desa Sirnasari terapat lebih dari 600 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sekitar 230 KK yang tersebar di 3 RT dan 1 RW yang kerap melintasi sungai tersebut.
“Kalau siswa ada 15 siswa ke SDN Cilele 2. Itu dari warga Desa Neglasari, Kecamatan Purabaya. Tepatnya di Kampung Nangewer. Kalau SMP nya jauh, ada yang ke Bojonghaur Lengkong dan tidak ada jembatan. Tetapi kalau ada jembatan enak, bisa deket ke Purabaya, karena ada SMA juga di Purabaya,” tandasnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, apabila di sungai Cikaso tersebut dibangun jembatan secara permanen. Maka, ia meyakini hal tersebut dapat membantu akses mobilitas warga dari tiga kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Sukabumi. Sebab, sungai Cikaso tersebut dapat mengubungkan Desa Sirnasari, Kecamatan Pabuaran dengan Desa Neglasari, Kecamatan Purabaya serta Desa Nangerang di Kecamatan Jampangtengah.
“Karena belum ada jembatan, maka warga dan siswa harus rela melintasi sungai Cikaso menggunakan rakit atau perahu yang terbuat dari anyaman bambu. Alhamdulillah, sih belum sampai ada laporan soal warga maupun siswa yang terbawa hanyut saat melintasi sungai itu. Meski demikian, kami tetap khawatir dan merasa sangat kasihan kepada warga, khususnya para siswa,” tandasnya.
Untuk bisa berangkat ke sekolah, belasan siswa jika musim kemarau mereka bisa menyusuri sungai dengan berjalan kaki sambil membuka sepatu dan menaikan celana atau rok sekolahnya. Namun, apabila memasuki musim hujan, maka mereka berangkat ke sekolah menggunakan rakit sambil diawasi orangtuanya.
“Namun, jika airnya meluap. Maka dapat dipastikan mereka lebih meliburkan sekolahnya. Iya, tidak ada yang berani mengantarkan anaknya untuk melintasi sungai itu, jika airnya sedang meluap. Karena, kalau dipaksakan rakitnya pasti kebawa banjir,” timpalnya.
Jika para siswa tetap berisi keras ingin belajar ke sekolah pada saat airnya meluap, maka mereka harus menggunakan akses lain dengan cara memutar dan memakan waktu 2,5 jam. Namun, jika naik rakit rata-rata warga harus bayar sebesar Rp5 ribu per orangn. Tetapi, bagi siswa hanya bayar seikhlasnya.
“Motor juga banyak yang nyebrang pakai rakit. Karena waktunya dekat. Kalau lewat Pabuaran itu harus melintasi 35 km. Tetapi kalau pakai rakit itu sedikit paling hanya butuh waktu 15 menit sudah sampai ke lokasi,” imbuhnya.






