Cegah Faham Komunis, G30S/PKI Diputar

  • Whatsapp

SUKABUMI — Warga Indonesia, tak terkecuali warga Kota dan Kabupaten Sukabumi antusias menyaksikan film Gerakan 30 September Partai Komunias Indonesia (PKI) atau yang dikenal G30S/PKI. Di Kota Sukabumi, ribuan warga tumpah ruah nonton bareng (nobar) pemutaran film pembunuhan sadis itu yang digelar di Lapangan Merdeka Kota Sukabumi, Sabtu (30/9) malam.

Kodim 0607 Kota Sukabumi, Muhammad Mahfud As’ad menyebutkan, antusias warga Kota Sukabumi sangat luar biasa. Tak hanya wilayah kota saja. Mereka yang berasal dari kabupaten pun tampak ikut menonoton.
“Dari Cicurug, Cibadak Parungkuda, mau anak sekolah, mahasiswa dan masyarakat luar biasa, semua ikut nonton,” akunya kepada Radar Sukabumi, Sabtu (30/9).

Bacaan Lainnya

Menurut Mahfud, G30S/PKI adalah sejarah kelam Indonesia. Sehingga harapannya dengan nobar faham komunis tidak akan pernah ada dan terjadi lagi.

“Di tahun 1948 hingga 1960 banyak dari mereka yang membunuh para santri, kiai, ulama, TNI, Polri,” imbuhnya.
Dengan dihentikannya pemutaran film G30S/PKI pada 1989, dan penghapusan pelajaran sejarah dari 2008 hingga saat ini belum ada, Mahfud mengaku belum ada indikasi faham komunis di Sukabumi.

“Sejauh ini saya lihat di Sukabumi belum ada indikasi. Tetapi yang berusaha membangkitkan terutama Sukabumi daerah selatan dan Cianjur Selatan pernah terjadi. Mereka melaksanakan rapat, kaitannya dengan komunis,” jelasnya.

Langkah yang telah dilakukan oleh pihaknya, yaitu terus memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang bahayanya faham komunis tersebut. Mahfud juga kembali menekankan, jika faham komunis dilarang. Namun jika pada realitanya ada orang yang dengan sengaja ataupun tidak menyebarkan faham tersebut, akan ditindak dengan tegas. Seperti misal dalam berbusana, mengenakan baju berlambangkan palu arit.

“Kami berhak mengambil dan melepas baju itu, dan melaporkan pada pihak yang berwajib sesuai dengan TAP MPR No 25 tahun 1966 tidak boleh menyebarkan faham komunis dan itu harus dipedomani,” imbuhnya.

Wakil Walikota Sukabumi, Achmad Fahmi mengutarakan bahwa nonton bareng, pertama dalam rangka mengenang sejarah dan mengambil hikmah. Baik sejarah kelam yang pernah dialami Indonesia. Kedua meningkatkan kewaspadaan terhadap berkembangnya faham komunis dalam berbagai bentuk dan cirinya.

“Yang ketiga, mengokohkan ideologi bangsa kita, yaitu pancasila di kalangan pelajar, pemuda dan juga santri. Sehingga mereka semangat dan yakin dengan ideologi bangsa,” jelasnya.

Pihaknya dalam hal tersebut, bekerja sama dengan berbagai pihak, baik pondok pesantren, dan lainnya.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Fath Kota Sukabumi, Fajar Laksana menuntut mundur Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy dalam menyikapi pelarangan pemutaran film G30S/PKI di kalangan siswa.

“Ya mendingan berhenti jangan jadi menteri pendidikan kalau ngelarang pemutaran film G30S/PKI diputar,” ucapnya
Di dalam Islam, lanjut Fajar, bahwa hikmah yang paling besar berkaca pada sejarah. Di dalam surah Al-fatihah sudah dijelaskan Ihdinassirotolmustaqim. Jika ingin mendapatkan petunjuk yang benar maka jangan lupakan sejarah.

“Film G30S/PKI, suka tidak suka. Banyak benarnya,”toh ada yang berbeda itu hanya sedikit sekali. Tetap pada intinya tujuh jenderal mati dibunuh,” paparnya.

G30S/PKI adalah penghianat bangsa dan negara. Hukum dalam Islam, haram anti ateis, haram faham anti agama dan anti tuhan.

“Maka orang yang ikut PKI adalah kufur, maka dalam Islam tidak jalan lain, jihad fisabilillah. Jika menteri pendidikan melarang pemutaran film G30S/PKI copot menterinya jangan jadi menteri,” tutupnya.

Di tempat terpisah, di lapangan Alun-alun Palabuhanratu dan Cafe Keppo Citepus juga digelar hal serupa. Bahkan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) juga menggelar nobar film G30S/PKI ini di wilayah Cibadak.

“Kami sengaja membuat acara nobar G30S/PKI ini untuk memperkuat rasa kecintaan kepada negara dan bangsa. Jangan lupa, bahwa negara kita memiliki pondasi yang kuat dengan empat pilar. Yaitu Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD 1945 dan NKRI. Semuanya berketuhanan,” tandas Ketua Penyelenggara, Nurlaela.(cr11/t)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *