Lebih lanjut dirinya mengatakan, jangan sampai kesalahan fatal tersebut lama dibiarkan dan bikin malu Kota Sukabumi dimata luar. Pasalnya, tidak sedikit warga lokal atau pendatang berfoto disana. Ketika foto tersebut di upload di media sosial dan dilihat warga net yang faham, tentu akan menjadi masalah karena salah dalam penulisan.
“Sangat memalukan, apalagi ketika dilihat oleh orang akademisi. Bahkan akademisi sunda di Bandung sudah mengetahui hal tersebut, dan itu sangat memalukan. Untuk itu harus segera diganti jangan menunggu lama-lama, “tukasnya.
Melihat kesalahan tersebut, dirinya menilai budaya literasi budaya sunda di Kota Sukabumi masih lemah, meski secara gaya sudah berjalan baik tetapi tidak didorong dengan bahasanya. Jangan sampai, warga Kota Sukabumi terutama pimpinannya tidak faham dengan aksara sunda sendiri yang merupakan jati diri daerah yang dikenal dengan Kue Mochinya.
“Intinya, literasi sunda ini harus ditingkatkan, bukan hanya gaya. Jangan sampai hal ini bisa terjadi kembali, malu kita. Kemis (Kamis Red) bukan hanya sekedar gaya saja tetapi harus faham budaya sundanya. Apalagi ini aksara ini dipasang di Istana Kota Sukabumi, ring satu. Jika salah, bisa fatal dan tanda bahwa budaya sunda sudah luntur, “tegasnya.(hnd)





