“Dinas Pertanian telah melakukan upaya mengendalikan serangan hama dengan melaksanakan menanam padi varietas unggul tahan serangan hama. Selain itu, kelompok tani hingga penyuluh di lapangan terus mengoptimalkan pengamatan secara berkala untuk pencegahan terhadap serangan hama tersebut,” imbuhnya.
Sementara itu, seorang petani asal Kampung Awi Lega, RT 4/3, Desa Kertaraharja, Kecamatan Cikembar, Dudun (70) membenarkan bahwa musim hujan saat ini dapat menjadi pemicu maraknya serangan hama blas yang menyerang tanaman padi hingga mengakibatkan terancam gagal panen. Ini karena padi tidak berisi.
“Dari lahan pesawahan sekitar empat are yang ditanam padi pada tiga bulan sebelumnya, kami hanya dapat menghasilkan kurang lebih 1,5 kwintal gabah. Padahal dalam kondisi normal, kami bisa menghasilkan sekitar 5 kwintal gabah. Ya itu tadi, gara-gara hama,” jelasnya.
Jauh-jauh hari sebelum musim panen, ujar Dudun, para petani harus rutin menyemprotkan fungisida atau obat pembasmi hama ke tanamannya agar tidak terancam gagal panen. “Namun sayang, cara seperti ini berakibat pada membengkaknya biaya produksi,” timpalnya.
Akibat terserang hama blas ini, produktivitas padi dapat anjlok sehingga para petani tidak sedikit mengalami gagal panen. Sebab menurut Dudun, hama blas yang menyerang tanamaan padi dapat mengakibatkan batang dan daun tanaman busuk. Sehingga pertumbuhan padi terganggu. Bahkan gabah yang dihasilkan pun banyak tak berisi. “Pendapatan petani pun otomatis turun,” pungkasnya. (den/d)






