Masih kata Sudarno, resesi ekonomi global telah berdampak buruk terhadap keberlangsungan perusahaan industri padat karya. Karena, penurunan order pekerjan atau produksi atau kapasitas produksi mencapai 30 persen sampai 70 persen, di setiap perusahaan industri padat karya di Kabupaten Sukabumi.
Sementara, tujuan negara ekspor sektor padat karya di Kabupaten Sukabumi ini, mayoritas berada di Eropa dan Amerika, hingga mencapai 80 persen dan sisanya Negara Asia di bawah 10 persen.
“Sehingga yang tadinya mau pulih. Namun, drop lagi akibat resesi ekonomi global. Nah, situasi Januari dan Februari sekarang ini, juga ternyata masih belum membaik, kondisi order. Jadi, boleh dikatakan stuck tidak ada perubahan signifikan,” imbuhnya.
Pihaknya menambahkan, jumlah total perusahaan yang terdaftar di DPK APINDO Kabupaten Sukabumi sampai 2023, terdapat 72 perusahaan. Namun, dari jumlah tersebut baru terdapat 25 perusahaan yang melaporkan kepada DPK APINDO Kabupaten Sukabumi, yang melakukan pengurangan karyawannya.
Dari semua kecamatan yang tersebar di Kabupaten Sukabumi, masih kata Sudarno, daerah yang paling banyak perusahaan yang melakukan pengurangan karyawannya, berada di wilayah Kecamatan Parungkuda dan Kecamatan Cicurug. Hal ini, terjadi karena di wilayah tersebut, lebih banyak perusahaan yang bergerak dalam sektor padat karya.
“Kalau di wilayah Kecamatan Sukalarang, memang ada perusahaan yang melakukan pengurangan karyawannya dengan cara menawarkan kompensasi pengunduran diri hingga mencapai sekitar 850 buruh. Tetapi, lebih banyak di persentasenya di wilayah Parungkuda dan Cicurug,” pungkasnya. (Den)






