Arkeolog Temukan Arca Makuta Raja di Sukaraja, Begini Kondisinya

  • Whatsapp
PENELITIAN : tim penelitian arkeologi dari Yayasan Cagar Budaya Nasional Kota Hiroshima-2 Sukabumi melakukan observasi tinggalan arkeologi berupa menhir dan arca makuta raja di Desa Pasirhalang, Kecamatan Sukaraja.(FOTO : FOR RADAR SUKABUMI)

SUKARAJA — Peneliti arkeologi dari Yayasan Cagar Budaya Nasional Kota Hiroshima-2 Sukabumi menemukan sebuah arca di Kampung Cibeureum Wetan, Desa Pasirhalang, Kecamatan Sukaraja, penemuan tersebut saat tim yang sedang melakukan observasi tinggalan arkeologi berupa menhir atau batu nangtung di Kampung Tugu, Desa Pasirhalang, Kecamatan Sukaraja hingga ke Kampung Buluh, Desa Semplak Kecamatan Sukalarang.

Tim penelitian arkeologi yang dikomandoi oleh Tedi Ginanjar kepada Radar Sukabumi mengatakan, berdasarkan laporan dari masyarakat di Kampung Buluh terdapat beberapa menhir jaman megalitikum yang sering diziarahi penduduk. Untuk itu, ia bersama rombongannya melakukan giat observasi tersebut dalam rangka menggali sejarah Kecamatan Sukaraja yang sejak zaman prasejarah telah dihuni oleh manusia.

Bacaan Lainnya

“Bukti adanya manusia zaman prasejarah di Sukaraja ditandai dengan adanya situs Batu Nangtung atau Menhir di Kampung Tugu Desa Pasirhalang, Kecamatan Sukaraja yang sekarang telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat Provinsi Jawa Barat,” kata Tedi kepada Radar Sukabumi, Jumat (05/03/2021).

Menurut Tedi, berdasarkan penelitian dilapangan, ternyata sebaran menhir yang berada di Kampung Tugu hingga ke pinggir sungai Cimuncang dibelakang pasar bunderan Sukaraja. Jika dilihat dari kontur bukit yang ada menhir tersebut dari arah selatan yaitu dari bekas Pabrik Kertas zaman Belanda, Menhir yang paling besar berada diatas puncak bukit. Dibawah bukit mengalir sungai Cimuncang yang berkelok membelah bukit.

“Dari hasil pengamatan nampaknya menhir yang paling besar tersebut dahulu ada punden berundaknya, mungkin strukturnya mirip situs Pangguyangan Cisolok atau situs di Cibedug Banten. Hal tersebut terbukti dari banyaknya sebaran batu batu kali yang berserakan disekitar areal menhir disana, kemungkinan besar bebatuan itu diambil dari sungai Cimuncang. Iya, ini merupakan ciri khas kebudayaan sungai,” paparnya.

loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *