SUKABUMI, RADARSUKABUMI.com – Nasib memilukan menimpa Udin (45) warga Kampung Cibojong, Desa Panumbangan, Kecamatan Jampangtengah. Bagaimana tidak, pria yang mengidap penyakit katarak itu masih harus bekerja keras agar bisa memenuhi kebutuhan hidup.
Keterbatasan yang dimilikinya tidak menyurutkan semangatnya untuk bekerja di pabrik aci atau pengolahan singkong dalam memenuhi kebutuhan hidup.
“Saya sudah 18 tahun lebih mengidap penyakit katarak,” kata Udin kepada Radar Sukabumi, belum lama ini.
Meskipun kedua matanya tidak bisa melihat secara normal, namun ia tetap semangat menjalani hidup. Setiap hari ia harus rela berjalan kaki dengan kondisi kedua matanya tidak melihat dengan menempuh jarak sekitar 300 meter untuk bekerja di pabrik aci.
“Saya kerja di pabrik aci sudah ada sekitar 15 tahunan. Saya sudah biasa sendiri, gak ada yang nganter, kurang lebih 300 meter jarak rumah ke pabrik,” timpalnya.
Saat tiba di lokasi pabrik adi, Udin, tidak hanya melakukan satu jenis pekerjaan saja. Namun, ia juga kerap terbiasa melakukan berbagai jenis pekerjaan di pabrik. Mulai dari pengolahan hingga menjemur singkong yang telah dihaluskan sebelum jadi aci.
“Memang kedua mata saya tidak bisa melihat seperti pada umumnya. Tapi, kalau bekerja saya sering diberikan kemudahan. Mungkin Allah telah memberikan kelebihan sama saya,” ujarnya.
Dalam sehari, Udin telah mendapatkan buruh dari pemilik pabrik aci mulai dari Rp25 ribu sampai Rp30 ribu. Dari penghasilannya tersebut, ia gunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
“Iya, kalau dibilang tidak cukup memang gak bakalan cukup. Tapi, saya selalu bersyukur dan Alhamdulillah, mesti penghasilan seperti ini kami bisa mencukupi kebutuhan istri dan dua anak saya yang baru baru lulus SMP dan masih duduk di bangku SMP kelas VIII,” paparnya.
Ia menceritakan, pertama kali mengalami penyakit katarak saat bekerja di sebuah toko. Ia setiap hari harus rela berjibaku mengantarkan barang dan kebutuhan bahan pokok dari toko tempatnya bekerja menggunakan sepeda motor sekitar tahun 2001 silam.
“Kedua mata saya mengalami penyakit seperti ini, ada sekitar tahun 2001 lalu. Waktu itu, saya mengikat barang-barang di motor menggunakan karet ban, saat hendak dilepas ikatan karet itu, tiba-tiba membentur pada bagian mata sebelah kiri. Semenatara, kalau mata sebelah kanan, rusak penglihatannya saat terbentur waktu mencari kayu bakar,” timpalnya.
Pihaknya mengaku sudah berupaya maksimal untuk menyembuhkan kedua matanya itu. Seperti mengikuti pengobatan gratis yang di selenggarakan oleh satu perusahaan.
“Saya sudah berobat ke RSUD Sekarwamgi Cibadak dan RSUD Palabuhanratu. Namun, hingga saat ini penyakit katarak itu, belum juga sembuh,” bebernya.
Sementara itu, Kepala Desa Panumbangan, Lalan Jaelani mengatakan, pihaknya mengaku terharu dengan sikap Udin karena mesti kedua matanya tidak bisa melihat, ia selalu semangat menjalin kehidupan tanpa keluh kesah.
“Pak Udin itu, sudah lama mengidap penyakit itu. Saya juga bangga dengan kepribadiannya. Karena dengan kondisi kedua matanya yang tidak bisa melihat, ia tetap bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, tanpa merepotkan orang lain,” katanya.
Pemerintah Desa Panumbanhan sudah berupaya membantu Udin untuk mendapatkan pengobatan gratis untuk menyembuhkan penyakit yang dideritanya itu. Namun sampai saat ini kondisi matanya masih tetap belum bisa melihat.
“Apabila ada bantuan sosial mulai dari pemerintah desa sampai pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi, pasti Pak Udin itu selalu kami prioritaskan. Rencananya dalam waktu dekat ini, juga kami akan berupaya membawa kembali Pak Udin untuk berobat,” pungkasnya. (Den/rs)





