SUKABUMI — Suara Dog-dog Lojor yang menggema, langkah warga mengiringi rengkong, serta doa syukur yang dipanjatkan di Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya menciptakan suasana khidmat sekaligus semarak.
Ribuan warga adat bersama tamu undangan larut dalam prosesi Seren Taun ke-447 yang digelar di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Minggu (12/7). Tradisi yang diwariskan lebih dari empat abad ini bukan sekadar pesta panen, melainkan simbol rasa syukur masyarakat adat kepada Sang Pencipta atas limpahan hasil bumi sekaligus penghormatan terhadap pesan leluhur.
Prosesi adat diawali dengan Ampih Pare ka Leuit, yakni memasukkan hasil panen padi ke lumbung adat sebagai lambang ketahanan pangan. Dilanjutkan dengan saresehan adat yang mempererat silaturahmi dan nilai kebersamaan.
Kemeriahan semakin terasa saat arak-arakan rengkong membawa hasil panen menuju leuit, diiringi pertunjukan seni tradisional seperti Dog-dog Lojor, Wayang Golek, Jaipongan, Debus, Kidung Buhun, Seni Laes, Tunggulan Lisung, hingga Angklung. Antusiasme masyarakat dan wisatawan yang hadir menegaskan kekayaan budaya Sukabumi.
Camat Cisolok, Okih Pazri Assidiq, menegaskan Seren Taun adalah identitas budaya masyarakat adat yang sarat makna. “Tradisi ini mengajarkan gotong royong, rasa syukur, persatuan, serta keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta,” ujarnya.
Sesepuh Adat Kasepuhan Ciptamulya, Abah Hendrik Suhendrik Wijaya, bersyukur Seren Taun tahun ini berjalan khidmat dengan hasil panen yang baik. Ia mengapresiasi perhatian pemerintah, termasuk bantuan pembangunan leuit dari Dinas Ketahanan Pangan. “Seren Taun bukan hanya penutup musim panen, tetapi momentum memperkuat persaudaraan, merawat nilai adat, dan menanamkan kecintaan budaya kepada generasi muda,” katanya.



