BERITA UTAMA

Sepuluh Tahun Terlupakan: Jembatan Karangtengah Sukabumi Jadi Jalur Maut

×

Sepuluh Tahun Terlupakan: Jembatan Karangtengah Sukabumi Jadi Jalur Maut

Sebarkan artikel ini
Sejumlah siswa Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, terpaksa melintasi jembatan rusak di atas Sungai Cimahi. Selama lebih dari satu dekade, jembatan besi sepanjang 30 meter ini dibiarkan tanpa perbaikan, menjadi jalur berbahaya yang tetap digunakan warga demi akses pendidikan, ekonomi, dan kebutuhan sehari-hari.

SUKABUMI – Warga Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, setiap hari harus mempertaruhkan nyawa demi melintasi jembatan besi sepanjang 30 meter di atas Sungai Cimahi. Jembatan yang menghubungkan Kampung Karang Lodaya Hilir dengan Kampung Kamandoran itu kini lebih menyerupai jebakan maut daripada sarana transportasi.

Struktur besi selebar satu meter sudah dimakan karat, posisinya miring, dan lantainya hanya tersisa balok kayu lapuk serta bambu seadanya. Tanpa pagar pengaman yang kokoh, warga hanya bertumpu pada besi reyot. Saat hujan turun, permukaan bambu licin dan siap menggelincirkan siapa pun ke dasar sungai.

Bank bjb Tandamata

Meski kondisinya memprihatinkan, jembatan ini tetap menjadi urat nadi aktivitas warga: dari akses menuju sekolah, pasar, hingga Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sekarwangi. Alternatif jalur lain mengharuskan warga memutar sejauh 2 kilometer, dengan biaya transportasi lebih besar.

Adin (47), warga Kampung Kamandoran, mengaku tak punya pilihan lain. “Takut sih takut, cuma gimana lagi. Ini satu-satunya jalan terdekat. Kalau lewat jalan lain harus memutar sekitar 2 kilometer. Istri saya bahkan tidak berani lewat sini dan lebih pilih pesan ojek online,” ujarnya pasrah.

Risiko paling besar justru dialami pelajar. Ardian (13), siswa SMP, pernah hampir terjatuh saat melintas di musim hujan. “Sekarang mendingan karena ada tambahan bambu, dulu lebih parah. Tapi tetap bahaya,” katanya. Baginya, jalur ini bukan hanya soal efisiensi waktu, melainkan juga keterbatasan uang saku. “Lewat sini ongkosnya Rp2 ribu. Kalau muter bisa Rp4 ribu dan takut terlambat sekolah,” tambahnya.