SUKABUMI — Wakil Ketua Komisi II DPRD Provinsi Jawa Barat, Lina Ruslinawati menegaskan bahwa tidak semua desa bisa jadi Desa Wisata. Menurutnya desa menjadi desa wisata harus memenuhi beberapa katergori yang sudah ditentukan pemerintah Provinsi Jawa barat.
“Ya benar desa wisata itu, tidak bisa semua desa bisa jadi desa wisata. Tahun ini aja baru ada 10 desa wisata di Jawa Barat dari jumlah sekitar 234 desa yang daftar kalau tidak salah. Untuk Kabupaten Sukabumi baru Desa Wisata Hanjeli di Kampung Waluran 2, Desa Waluran Mandiri, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, yang diresmikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno beberapa waktu lalu, “terang Lina
Diketahui desa wisata itu harus ada konsep, pertama konsep Attraction (Atraksi), konsep ini Merupakan komponen yang signifikan dalam menarik wisatawan. Suatu daerah dapat menjadi tujuan wisata jika kondisinya mendukung untuk dikembangkan menjadi sebuah atraksi wisata. Menjadi atraksi wisata itulah yang disebut modal atau sumber kepariwisataan. Untuk menemukan potensi kepariwisataan di suatu daerah orang harus berpedoman kepada apa yang dicari oleh wisatawan Untuk menarik kedatangan wisatawan itu ada tiga, pertama Natural Resources (alami), 2) Atraksi wisata budaya, dan Atraksi buatan manusia itu sendiri.
Kedua, Amenity (Fasilitas), Amenity atau amenitas adalah segala macam sarana dan prasarana yang diperlukan oleh wisatawan selama berada di daerah tujuan wisata. Sarana dan prasarana yang dimaksud seperti, penginapan, rumah makan, transportasi dan agen perjalanan.
Dengan menggunakan prasarana yang cocok dibangunlah sarana-sarana pariwisata seperti hotel, atraksi wisata, marina, gedung pertunjukan, dan sebagainya. Adapun prasarana yang banyak diperlukan untuk pembangunan sarana-sarana pariwisata ialah jalan raya, persediaan air, tenaga listrik, tempat pembuangan sampah, dan lain-lain.
Ketiga, Accessibility (Aksesibilitas), Accessibility merupakan hal yang paling penting dalam kegiatan pariwisata. Segala macam transportasi ataupun jasa transportasi menjadi akses penting dalam pariwisata. Di sisi lain akses ini diidentikkan dengan transferabilitas, yaitu kemudahan untuk bergerak dari daerah yang satu ke daerah yang lain. Jika suatu daerah tidak tersedia aksesibilitas yang baik seperti bandara, pelabuhan dan jalan raya, maka tidak akan ada wisatawan yang mempengaruhi perkembangan aksesibilitas di daerah tersebut.
dan keempat Ancilliary (Pelayanan Tambahan), Pelayanan tambahan harus disedikan oleh Pemda dari suatu daerah tujuan wisata baik untuk wisatawan maupun untuk pelaku pariwisata. Pelayanan yang disediakan termasuk pemasaran, pembangunan fisik (jalan raya, rel kereta, air minum, listrik, telepon, dan lain-lain) serta mengkoordinir
segala macam aktivitas dan dengan segala peraturan perundang-undangan baik di jalan rayamaupun di objek wisata.
Ancilliary juga merupakan hal–hal yang mendukung sebuah kepariwisataan, seperti lembaga pengelolaan, Tourist Information, Travel Agent dan stakeholder yang berperan dalam kepariwisataan.
“Desa wisata itu seperti apa sih, apa sih desa wisata itu. Nah harus ada indikator kompenan yang dipenuhi, diantaranya Attraction, Amenity, Accessibility dan Ancilliary, kalau tidak didukung itu ngapain juga jadi desa Wisata, jika beberapa konsep itu tidak dimiliki maka akan tereliminir dengan sendirinya, apalagi dengan konsep dadakan jelas tidak bisa “terangnya.
Lebih lanjut dirinya mengatakan, dirinya juga dalam waktu dekat akan mengunjungi desa wisata Hanjeli di Kampung Waluran 2, Desa Waluran Mandiri, Kecamatan Waluran, konsep di Desa wisata Hanjeli itu konsepnya sudah benar seperti itu, mulai dari budidaya sampai menjadi olahan. Desa wisata hanjeli merupakan sumber daya hayati yang bisa dijadikan pangan non beras.
“Desa wisata hanjeli, bisa dijadikan alternatif bahan pengganti beras yang menjanjikan masyarakat dalam ketahanan pangan di Jawa Barat. Desa wisata ini perlu dukungan makanya saya akan meninjau lokasi desa Wisata itu besok, “tandasnya. (adv)






