Netizen Maha Benar

Oleh: Handi Salam
*Redaktur di Radar Sukabumi

Jumat (6/4) siang sekitar Pukul 10,45 WIB saya diajak seorang teman wanita untuk mengatarkannya menuju pusat Kota Sukabumi. Dalam perjalanan saya bersama teman yang datang dari ibu kota itu berbicara panjang, karena kebetulan perjalanan yang saya tempuh memerlukan waktu lumayan lama sekitar 35 sampai 40 menit untuk sampai tujuan.

Bacaan Lainnya

Selama dalam perjalanan saya diajak diskusi soal gosip dan cuap-cuap netizen (warganet red) yang belakangan ini banyak menimbulkan beberapa korban. Virus hatters atau yang disebut komentar penuh kebencian memang membuat kita miris akan prilaku masyarakat yang dengan mudahnya memunculkan kebencian kepada seseorang tanpa memikirkan akibatnya. Waktu itu saya jadi ingat kasus Sonya Depari, ya pemudi yang baru lulus dari Sekolah Menengah asal Kota Medan itu harus kehilangan ayah untuk selamanya akibat komentar miring netizen maha benar.

Dalam kasus ini, saya juga tidak menyalahkan sepenuhna pada nitizen semata, karena apa yang dilakukannya adalah melanggar membuat salah dengan membawa nama-nama pejabat kepolisian dalam kasusnya. Memang, menurut sebagian orang ini adalah kasus sepele, namun karena begitu hebatnya komentar nitizen membuat Ayahna meninggal dalam keadaan menanggung malu.

Apakah orang luar berhak untuk membully yang bersangkutan hingga viral di media sosial (medsos). Lucunya lagi akibat viralnya berita ini dalam hitungan jam, naik ke berita-berita nasional. Dan sialnya kabar tersebut langsung didengar oleh bapaknya sendiri lalu kemudian meninggal akibat terkena serangan jantung ketika putrinya melakukan pelanggaran yang berujung ramai diperbincangkan di Medis Sosial (Medos).

Kasus ini, seperti yang dicotohkan tema saya dalam perjalanan menuju pusat kota kala itu. Bahwa memang benar, saat ini prilaku Nitizen adalah yang paling maha benar dengan segala komentarnya. Sepertinya ini simple, tapi susah memecahkannya. Saat ini, kehidupan dunia maya sudah menjauhkan kehidupan dunia nyata.

Saya sendiri juga, hampir setiap jam menggunakan Media Sosial (medos), malas sebetulnya. Tapi, untuk keperluan pekerjaan saya terpaksa. Saya sepakat dengan apa yang di katakan teman perempuan yang saya antar waktu itu, bahwa gunakanlah medsos dan internet untuk hal-hal yang bermanfaat seperti contoh menyebar kebaikan, nonton kajian kehidupan, sharing pengalaman hidup, cari inspirasi dan bahkan postingan yang lucu untuk membuat orang tertawa.

Saya juga sadar betul, bahwa menyebarkan hal-hal yang memiliki efek pengaruh negatif ke orang lain adalah perbuatan kurang baik. Ya, mending berkomentar secara wajar, beretika di dunia sosial itu selayaknya beretika di dunia nyata. Ketika orang, berkomentar miring usahakan tidak terbawa dan ikut-ikutan berkomentar pedas apalagi menebar kebencian.

Yang bahaya adalah anak-anak jaman saat ini, mengapa karena tanpa adanya pengawasan dari orang tua terkadang suka terbawa dan kebablasan. Maka sangatlah penting orang tua mengikuti anak-anaknya untuk melek internet agar bisa mengawasi anak-anaknya. Karena disetiap kasus penebar kebencian kebanyakan berawal dari sikap labil atau anak baru gede yang baru menggunakan media sosial.

Lalu bagaimanakah kita harus berperilaku di Internet agar tidak kebabalsan, wanita itu menjawab bahwa lebih baik memberikan inspirasi kepada orang-orang sekeliling, melihat yang bermanfaat, mencari ilmu, bukan mencari dan menebar kebencian. kalaupun kesal, mendingan komentar saja sama teman-teman di dunia nyata dan di group buat jadi lucu-lucuan.

Hal ini, juga kadang saya lakukan ketika kesal pada sesuatu saya selalu menyelipkan rasa humor agar mereka tidak tersinggung keras, dibandingkan menghujat orang tersebut di media sosial lebih bagus di dunia nyata lebih bebas dan tidak meluas kemana-mana. Ya kalau kenal gak apa-apa, ini dengan orang yang dibullynya tidak kenal, pake mau ikut komentar. Kalau bisa lebih baik diam dan gak usah komentar dimana-mana.

Kita tidak tau, bahwa di internet orang bisa saja menggunakan wajah palsu dengan “fake account” menyebabkan orang-orang terlalu bebas berekspresi dan akhirnya kebablasan hingga menyebabkan orang lain merugi. Fake Account biasanya bebas saja melakukan apapun, yang anehnya yang akun resmi biasanya terbawa arus dengan ikut membagikan yang dibagikan oleh akun palsu.

Pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa yang dikatakan teman perempuan itu adalah sebuah peringatan atau wejangan agar dalam bermedia sosial harus cerdas. Dan jangan sekali-kali ikut dan terbawa oleh isu-isu negatif yang tidak membawa kebaikan kepada kita. Toh, menghujat dengan kebencian ada dosanya, kenapa tidak memilih mendoakannya yang ada pahalanya. (*)

Pos terkait