Selama ini petani kita yang kalah efisien cenderung dijawab dengan kepasrahan: sudah takdir kita.
Padahal, seperti kata Saparini, semua bisa diatasi dengan kebijakan negara yang komprehensif.
Di situlah core-nya. Untuk mengkaji yang core-core seperti itulah dia dirikan Core Indonesia.
Tapi kenapa orang tua Saparini memberi nama laki-laki untuk anak perempuannya?
“Saya ini orang Jawa,” katanyi. “Di Jawa, kata bapak saya, nama dengan akhiran ‘i’ itu menandakan perempuan. Kalau akhiran ‘o’ itu untuk nama laki-laki. Jadi Hendri itu nama perempuan. Kakak laki-laki saya bernama Hendro,” ujarnyi.
Belakangan, ketika dia sering ke Prancis, barulah mantap. “Di Prancis nama Hendri itu perempuan. Jadi, ayah saya sudah benar,” katanyi.
“Jangan-jangan ayah dulu lulusan Sorbone University…,” sela saya.
“:) 🙂 :)’” jawabnyi.(Dahlan Iskan)





