ARTIKEL

Soekaboemi Tempo Doeloe

×

Soekaboemi Tempo Doeloe

Sebarkan artikel ini
kang-warsa

Manusia Sukabumi modern dengan alasan apapun memang sudah semestinya membangun kembali kisah leluhur mereka. Paling tidak, ada dua dampak yang dapat dirasakan oleh generasi sekarang.

Pertama, menghadirkan kisah masa lalu sama dengan menapaktilasi jejak-jejak leluhur mereka sendiri sebagai upaya menghargai asal-usul manusia Sukabumi.

Bank bjb Tandamata

Kedua, menjelajahi jejak masa lalu dapat memantik upaya konservasi terhadap tradisi, kebiasaan, dan kearifan lokal yang sudah jarang ditampilkan di masa kini karena segregasi budaya yang semakin menguat.

Sampai sekarang, manusia Sukabumi modern masih mencari-cari budaya azali leluhurnya karena leluhur mereka sendiri jarang mewariskan jejak-jejak masa lalu melalui artefak dan tulisan selain bahasa verbal.

Alasan paling sederhana di balik kekurangan sumber primer ini tentu saja leluhur orang Sukabumi sebagai bagian dari manusia Sunda sering mengedepankan “tali paranti” atau tetapan etika kasundaan.

Leluhur orang Sukabumi sebagai bagian dari manusia Sunda tidak menghendaki keturunannya terjebak pada sikap tekstual.

Mereka bukan tidak memiliki kemampuan literasi, melainkan mengedepankan cara pandang atau visi ke depan agar anak-cucunya memahami kehidupan sesuai dengan perkembangan zaman.

Tidak terjebak pada sikap rigid. Kelemahan dari sikap ini tentu saja memengaruhi penafsiran dan penerjemahan terhadap warisan verbal secara beragam dan cendering tidak serupa. Sebab, penuturan bahasa bisa mengalami penambahan atau pengurangan konten.

Pencarian jati diri dan jejak masa lalu leluhur Sukabumi selama dua dekade ini terus dilakukan oleh individu, komunitas, masyarakat, dan pemerintah dalam format masing-masing. Lahirnya kepelbagaian penafsiran mengenai Sukabumi di masa lalu –bagi saya- merupakan khazanah kebaruan yang dapat menyajikan menu-menu pilihan bagi generasi sekarang.

Di sisi lain, khazanah seperti ini dapat menjadi latar belakang awal penelitian ilmiah tentang Sukabumi bahkan dapat menjadi pijakan awal ke arah penelitian ilmiah tentang Sukabumi.

Acara yang digagas oleh Yayasan Dapuran Kipahare beberapa minggu lalu bertajuk Soekaboemi Tempo Doeloe menjadi salah satu penanda bagaimana kisah-kisah masa lalu dihadirkan di masa kini.

Tujuan kegiatan seperti ini –kemungkinan besar- dilandasi oleh semangat masyarakat pecinta sejarah Sukabumi untuk memperkenalkan “waruga” Sukabumi di masa lalu, terlebih dari abad 18 sampai era sebelum kemerdekaan.

Sementara itu, untuk benar-benar kembali ke masa lalu, manusia Sukabumi memang harus memiliki piranti lunak agar mereka dapat memasuki kepala leluhurnya. Masa lalu hanya dapat dilihat oleh manusia-manusia yang hidup di zaman itu.

Lantas, apa cara yang harus ditempuh oleh generasi sekarang agar dapat memasuki isi kepala leluhurnya yang terpisal ruang dan waktu ratusan hingga ribuan tahun?

Teknologi terbaru apa yang dapat menghubungkan otak manusia modern dengan kepala leluhurnya agar informasi masa lalu dapat ditransferkan ke masa kini?

Dapatkan manusia modern mengakses informasi masa lalu tanpa piranti keras (misalnya neuron dan kabel)?

Teknologi terbaru memang telah berhasil mengetahui cara menentukan umur benda-benda purbakala melalui uji karbon. Citra satelit juga dapat mengidentifikasi permukaan geosfer Bumi masa lalu.

Walakin, teknologi paling canggih saat ini baru memulai penelitian untuk mengidentifikasi sisa-sisa partikel masa lalu yang memuat miliaran informasi yang tersedia di alam dan  di dalam diri manusia.

Bukan tidak mungkin, saat mesin cerdas  telah diproduksi oleh manusia, mesin-mesin cerdas ini dapat membuat formula dan menyusun beberapa kemungkinan yang terjadi di masa lalu.

Partikel-partikel yang melayang di lapisan teratas Bumi mengandung informasi masa lalu, kemungkinan besar, sebuah mesin cerdas di masa depan dapat mengumpulkan, menganalisis, dan merangkum informasi di masa lalu.

Menunggu kehadiran mesin cerdas yang memiliki kemampuan mendeteksi dan mengumpulkan partikel informasi masa lalu memerlukan waktu yang masih lama.

Atas alasan ini, manusia Sukabumi modern dituntut untuk menggunakan cara lain agar mereka memiliki kemampuan mengoleksikan partikel informasi masa lalu kemudian mengasosiasikan dan menuturkannya  dalam diskusi-diskusi terbatas sebagai salah satu bagian dari metode ilmiah sebelum diteliti oleh para ahli sejarah.

Cara lain yang dapat ditempuh yaitu: manusia Sukabumi modern harus memiliki kekuatan hebat agar sel-sel yang ada dalam tubuh mereka dapat terhubung dengan partikel informasi masa lalu kemudian direspon oleh otak.

Manusia Sukabumi modern harus mulai membangun kesadaran, setiap apapun yang berada di alam, sejak alam ini diciptakan sampai sekarang, merupakan rangkaian formula ilmiah dan akan selalu ilmiah. Segala sesuatu memang telah diciptakan oleh Allah atas perhitungan dan takaran yang tepat. ***