Bahkan, kerajaan Pajajaran pun sering ditempatkan pada wilayah klenik. Orang yang bekerja sampai malam akan dikaitkan dengan kalimat: manéh kawas Pajajaran, gawé nepi ka peuting kieu! (Kamu seperti orang yang kerasukan Pajajaran, bekerja sampai lupa waktu).
Citra negatif ini sebagai pengaruh kekuasaan Orde Baru yang tidak dapat menyembunyikan sikap Jawa Sentris sebagai pengaruh dari “Kisah Perang Bubat”, kisah yang harus diteliti ulang validitasnya oleh para ahli sejarah.
Orang-orang Sukabumi –secara umum- baru mulai mencari-cari jati diri dan jejak leluhurnya di masa reformasi. Pencarian seperti ini di masa sebelumnya hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu yang memiliki akses kepada pemerintah, misalnya melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Penelusuran jejak masa lalu kadang dilakukan secara sporadis hingga menimbulkan penafsiran beragam tentang masa lalu Sukabumi.
Situasi ini sebagai pengaruh dari euforia kebebasan berpendapat, semua harus dilakukan serba cepat, mandeknya sumber-sumber primer dan catatan Sukabumi di masa lalu hanya pada periode De Wilde (abad ke 18), dan kurangnya penelitian dilakukan secara mendalam oleh para sejarawan.
Maka, ketika ada pertanyaan bagaimana situasi dan kondisi sosial kultural Sukabumi di masa lalu? Hipotesa pertama terhadapnya dibatasi oleh kehidupan manusia Sukabumi di era kolonial, karena keterbatasan sumber sejarah tadi.
Seorang Belanda, J.M Knaud pernah menulis kisah Sukabumi dalam catatan: Herinneringen Aan Soekaboemi (Sukabumi Dalam Kenangan).
Catatan ini menjadi salah satu sumber rujukan kehidupan sosial dan kultural Sukabumi di masa lalu. Knaud menulis catatan berdasarkan informasi dari orang-orang Sukabumi sendiri.
Namun tentu saja, catatan ini tak luput dari interpretasi Knaud sebagai seorang Belanda terhadap kondiai sosial kultural pribumi yang tidak memiliki ikatan organis perasaan antara penulis dengan manusia saat itu.
Apalagi catatan tersebut lebih besar dipengaruhi oleh kepentingan Belanda dalam memetakan budaya wilayah yang ingin mereka kuasai.
Buku ini sangat penting dikaji, selain menyajikan informasi masa lalu, juga dapat memberikan gambaran umum bagaimana sebaiknya manusia modern dalam memperlakukan jejak masa lalu leluhurnya.





