Oleh Kang Warsa
Sebelum diberi nama Jalan RH. Didi Sukardi, jalanan yang memanjang dari perempatan Si Godeg sampai Terminal Jubleg biasa disebut oleh masyarakat sebagai Jalan Baros. Pinggir jalan ditumbuhi oleh pepohonan tingkat tinggi seperti Albasia dan Mahoni.
Bagi sebagian besar orang saat itu, kehadiran pepohonan mungkin tidak terlalu dirasakan manfaatnya, selain tingkat polusi masih rendah, masyarakat juga masih merasakan kehadiran ribuan pohon dengan berbagai kerajaannya tumbuh dengan subur di sekeliling mereka.
Walakin, bagi manusia yang hidup di zaman sekarang, kehadiran kembali berbagai jenis pepohonan tingkat tinggi di sepanjang jalan akan sangat dirasakan manfaat dan fungsinya. Selain menyerap polutan dan sebagai pengedap suara kendaraan bermotor, kehadiran pepohonan dibutuhkan untuk membuat kondisi sepanjang jalan menjadi lebih sejuk.
Sampai saat ini, saat jalan ini telah diberi nama Jl RH Didi Sukardi, dari SDN CBM Pakujajar sampai MA Negeri 1 Kota Sukabumi kita masih menyaksikan pohon-pohon tingkat tinggi masih berjajar sepanjang jalan. Dampaknya, sepanjang jalan ini memang lebih adem dan sejuk jika dibandingkan dengan jalan lainnya seperti jalan Ottista.
Tingkat kepadatan lalu-lintas Jalan RH Didi Sukardi dan Jalan Baros sampai ke Terminal Jubleg memang tidak terlalu signifikan jika dibandingkan dengan kepadatan lalu-lintas jalan lain. Tingkat kepadatan lalu-lintas jalan ini -mungkin hanya setengahnya- dari jalan Pelabuan II.
Selain dipengaruhi oleh keberadaan Jalur Lingkar Selatan, jalan ini memang hanya sebagai penghubung mobilitas warga dari daerah Nyalindung dan Sagaranten yang akan berkunjung ke pusat Kota Sukabumi. Jumlah kendaraan pengangkut barang pun relatif lebih sedikit dari angkutan barang yang melintasi Jalan Pelabuan II.
Kondisi Jalan Baros pada tahun 80an dan 90an lebih asri lagi. Jumlah kendaraan yang melalui jalan ini, apalagi ketika sudah sampai di sekitar Sudajayahilir, Jayaraksa, sangat jarang. Dapat diasumsikan dalam satu jam hanya dilalui oleh 20-30 kendaraan, itu juga rata-rata kendaraan dengan kategori angkutan perkotaan jurusan Baros.
Pada saat jam sibuk, saat masuk dan pulang sekolah, kemacetan memang biasa ditemui di beberapa titik seperti di depan SMA Negeri 1 Kota Sukabumi, SDN Baros (sebelum diberi nama CBM Pakujajar), MA dan MTS Negeri, dan perempatan Si Godeg. Titik-titik ini merupakan tempat yang rawan kemacetan di saat jam sibuk.
Para siswa memang masih membiasakan diri berjalan kaki saat berangkat ke sekolah. Saat itu, bukan pemandangan aneh, kita menyaksikan para pelajar berjalan kaki sepanjang jalan Baros atau Jl. RH Didi Sukardi saat ini. Hal ini saya alami, selama tiga tahun bersekolah di SMA Negeri 1 Kota Sukabumi, saya membiasakan berjalan kaki melalui pemakaman Kerkhof dan Jalan RH. Didi Sukardi untuk sampai ke tempat tujuan.
Pemerintah Kota Madya dan Kabupaten Sukabumi belum mengenal istilah pedestrian sebagai ruang publik tempat warga kota berjalan kaki saat itu. Kemungkinan besar, konsep pedestrian hanya dikenal di kota-kota Eropa saja. Faktanya, pada tahun 80-90an kota-kota besar di Eropa seperti yang saya lihat melalui sumber-sumber bacaan dan literasi memang telah mengembangkan ruang publik yang nyaman dan ramah untuk pejalan kaki, tanpa dilalui oleh kendaraan bermotor.
Kendati demikian, dalam praktiknya, masyarakat Sukabumi tahun 80-90an memang telah melakukan hal yang biasa dikerjakan oleh masyarakat kota besar Eropa. Mereka memilih banyak berjalan kaki di trotoar, terutama dilakukan oleh para pelajar yang akan bersekolah.





