Bagaimana mungkin dalam suasana panas dan sumpek akan lahir pikiran yang tenang dan jernih. Kondisi ini justru telah menjadi pemantik munculnya sikap arogan, agresif, mudah marah dan tersulut, rentan terhadap berbagai penyakit mental, mudah menyerah, dan gampang tertekan.
Kita –misalnya- pada tahun 80-an telah menginjak usia remaja dan memasuki masa pubertas. Kita berjalan bersama pasangan di pinggir jalan di bawah rapatnya pepohonan, senjakala menggurat emas, matahari sedang bersiap-siap memasuki peraduannya, gemawan ditembus oleh burung-burung berbaur dengan lelawa yang baru keluar dari persembunyiannya.
Apa yang kita rasakan? Alam sedang membangun suasana romantis, dampaknya akan dirasakan oleh kita bahwa jalinan hubungan kita dengan sang kekasih memang direstui oleh alam. Semua serbah indah.
Saya merasa perlu membahasakan kisah kenangan sepanjang Jalan Pelabuan II di masa lalu ketika akhir-akhir ini kita telah merasakan pemanasan global, bukan lagi merupakan isu yang sering digaungkan oleh para pecinta lingkungan. Orang-orang Sukabumi telah merasakan suhu rata-rata tertinggi yang sebelumnya ada di kisaran angka 16 sampai 21 derajat sekarang telah ada di angka 22 – 33 derajat celcius.
Orang-orang Sukabumi pada tahun 1980-an pergi ke toko penyedia perlengkapan rumah tangga, salah satunya untuk membeli selimut. Saat ini, dengan suhu rata-rata tertinggi di angka 33 derajat, saya pikir selimut sudah tidak lagi dibutuhkan saat kita tidur.
Akustik lingkungan yang hadir di masa kini adalah raung kendaraan bermotor yang tidak pernah mau berhenti. Suara knalpot sepeda motor memasuki gang-gang sempit sampai tengah malam, kualitas tidur manusia modern menurun drastis, produktivitas mengalami degradasi, dan tentu saja manusia modern harus membayarnya dengan harga yang cukup mahal: alam yang rusak berdampak pada rusaknya tatanan kehidupan. Berjejal saling kejarnya kendaraan bermotor di tengah jalan adalah refleksi dari mentalitas hidup manusia modern yang sulit mewujudkan ketenangan.
Sepanjang Jalan Pelabuan II sampai tahun 1990-an adalah lukisan ampiteater raksasa, adanya hubungan yang terawat antara alam dengan manusia. Kesadaran tentang situasi masa lalu dan harus hadir kembali di masa kini sudah semestinya dimasukkan ke dalam rencana pembangunan berkelanjutan oleh manusia Sukabumi modern saat ini. Pembangunan yang benar-benar memperhatikan ketersediaan akustik lingkungan alamiah dari sekadar membangun infrastruktur yang kurang ramah apalagi merusak lingkungan. ***





