Mungkin saya berfikir mudik di masa anak-anak teman yang tumbuh kedepan. Mudik adalah memperpajang silaturahmi. Tanpa kenangan. Tanpa berbicara kenangan di masa lalu. Cukup berbicara soal masa depan dan cerita pengalaman. Rukun mudik rasa-rasanya bisa tergantikan.
Hidup rukun dengan silaturahmi bisa berlanjut. Mengenal kerabat yang tiap tahunnya bisa berubah penampilan dan sikap. Ada yang sukses ada yang jalan ditempat ada yang mundur. Tergantung takdir dan kerja keras. Semua berproses dengan berbeda-beda.
Pada akhirnya mudik adalah mudik. Ceritanya berbeda-beda. Tergantung situasi. Ada yang merindukan bermacet-macetannya saja ada juga yang merindukan suasana kampungnya saja tanpa kenangan. Semua sama saja, mau mudik atau tidak sama saja. Jangan dipaksakan untuk sama, karena adil tidak harus rata. Semua memiliki kenangan dan masalahnya sendiri dalam memaknai mudik. Jangan sedih yang tak mudik tahun ini, tahun depan masih ada kalau dipanjangkan umur. (*)




