Rukun Mudik

Handi-Salam

Oleh : Handi Salam

BAGI Sebagian orang mudik adalah rukun keenam. Tidak sempurna jika tidak dilakukan usai berpuasa sebulan. Sudah tradisi, seperti di China Hari Raya Imlek sebagian penduduknya yang mampu pasti melakukan mudik.

Saya tanya kepada seorang teman yang sudah 10 tahun lebih merantau di Jakarta. Bagaimana anak-anakmu kelak memahami mudik?. Anak-anakmu tidak mengenal halaman kampung yang dulu tempat dibesarkan orang tuanya.

Anak-anakmu mungkin tidak mengenal berenang di kali. Ngurek (memancing belut di sawah). Bermain di tempat kotor. Anak-anakmu tidak memiliki kenangan. Pendeknya anakmu tidak memiliki syarat untuk mudik. Anakmu tidak bisa bertukar cerita masa lalu dengan anak-anak lain.

Kampung yang membentuk krakter mereka adalah kampung dimana rumahmu berada saat ini. Dimana rasa sosial tidak dihargai dengan tulus. Rasa baik bisa dicuriga. Saling mengenal jika ada perlunya. Selain itu tidak ada. Kalaupun ada ujung-ujungnya saling memafaatkan.

Anak-anakmu akan sulit memahami kehidupan kampung. Rasa pamrih saling membantu sulit dilakukan di kota Metropolitan. Contohnya saat mebangun rumah. Di kampung tetangga saling membantu. Di kota mana ada. Pembangunan Cukup dilakukan oleh dua tiga orang. Orang lain mana peduli. Kalaupun peduli ada maunya. Semisal minta bayaran.

Mudik sesungguhnya adalah untuk mengenang kenangan masa lalu. Berbicara sesama teman. Kenangan akan indah dibicarakan dengan orang yang pas. Orang-orang yang memiliki kenangan sama. Jika tidak apa yang dibicarakan. Soal Presiden mau tiga priode, harga minyak goreng masih tinggi. Mana mungkin itu dibahas saat mudik bersama sanak keluarga.

Saya rasa kenangan selalu menumbuhkan romantisme sebab ia seperti cermin yang memantulkan bayangan masa lalu, masa penting yang mengantarkan kita pada hari ini. Peristiwa-peristiwa, orang-orang, dan suasana yang terbentuk dan mengiringinya senantiasa memberikan sensasi dan déjà vu. Ikatan pada kampung itulah yang membuat mudik selalu menggairahkan. itu kata Kang Bagja dalam Tulisannya.

Pulang kampung beda cerita. Momentnya selalu berbeda dengan mudik setelah Ramadan. Barangkali karena mudik di hari lain kenangan-kenangannya tak lengkap. Teman-teman dulu tak pulang jika tak Lebaran. Mereka juga merantau dan hanya pulang sekali dalam setahun.

Kenangan itu tidak ada di anak-anak yang saat ini ikut mudik dengan orang tuanya. Bagaimana memahaminya ?. Mungkin mereka mudik ke kampung lain dengan menciptakan kenangan sendiri.

Mungkin 10 atau 20 tahun lagi Mereka tak punya mudik yang selalu membetot untuk selalu didatangi. Mungkin mereka seperti turis yang mengunjungi sebuah tempat untuk transit, bukan seorang anak hilang yang sedang “Pulang”.

Tapi, itu fikiran semtimentil saya. Mungkin, anak-anaknya bisa memiliki dunia sendiri, yang tentu akan berbeda dengan orang tuanya soal memahami tentang mudik. Fikiran mereka akan membentuk mudik versi yang lain. Dan dunia yang berbeda itu akan membentuk mudik mereka sendiri.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.