ARTIKEL

Refleksi Implementasi Kurikulum Merdeka

×

Refleksi Implementasi Kurikulum Merdeka

Sebarkan artikel ini
Pengamat Pendidikan, Divisi Hukum dan
Pengamat Pendidikan, Divisi Hukum dan Advokasi DEEP Indonesia, Aktivis Nasyiatul Aisyiyah

Oleh: Firmawati

SELEPAS lebih dari dua tahun pandemic Covid-19 merenggut kehidupan normal kita, akhirnya pada momentum hari kemerdekaan di tahun ini kita kembali dapat merasakan suka cita. Refleksi Implementasi. Pandemi meninggalkan begitu banyak pekerjaan rumah diberbagai sektor kehidupan termasuk di dalamnya bidang pendidikan.

Bank bjb Tandamata

Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945mengamanatkan bahwa kehidupan bangsa harus dicerdaskan. Upaya mencerdaskannya harus melaluipendidikan yang dilaksanakan berlandaskan kemerdekaan.Lantas yang menjadi pertanyaan reflektif sudahkan pendidikan di Indonesia dilaksanakan dengan merdeka sebagaimana diamanatkan konstitusi kita?

Kurikulum merdeka sebagai salah satu program merdeka belajar berupaya memanifestasikan amanat konstitusi Indonesia. Kurikulum merdeka adalah kebijakan yang akan memberikan bold pada kemerdekaan yakni kebebasan, keleluasaan dalam dunia pendidikan.

Sebagian dari publik mungkin akan bertanya atau mungkin kaget dengan kebijakan yang dibuat dalam periode kepemimpinan Menteri milenial Nadiem Anwar Makarim. Pasalnya kurikulum merdeka adalah konsep yang sangat baru di dunia pendidikan Indonesia.

Konsep Kurikulum Merdeka

Dilansir dari laman Kemdikbud.co.id kurikulum merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana konten akan lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Guru memiliki keleluasaan untuk memilih berbagai perangkat ajar sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat peserta didik.

Kurikulum Merdeka memperkuat projek untuk menguatkan pencapaian profil pelajar Pancasila dikembangkan berdasarkan tema tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah. Projek tersebut tidak diarahkan untuk mencapai target capaian pembelajaran tertentu, sehingga tidak terikat pada konten mata pelajaran.

Zidni dalam Jurnal tahun 2021 menuturkan, konsep kurikulum Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka dalam perspektif teori konstruktivisme memiliki kesejajaran dalam memandang pendidikan sebagai bentuk pengalaman. Keduanya menekankan pada aspek kebebasan, kemerdekaan dan keleluasan pelaku pendidikan mulai dari pendidik sampai dengan pebelajar. Semangat yang sama tercermin dari bagaimana cara memandang bahwa pebelajar harus bebas berkembang secara natural dan pembelajaran harus berbasis pengalaman.

Kurikulum merdeka memberikan gaya belajar yang memanusiakan anak sebagai peserta didik. Anak harus dikenali kemampuannya, minatnya bakatnya sehingga dalam pembelajaran anak berkembang tanpa tekanan. Karena setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda dalam menyerap pembelajaran maka guru tidak boleh memukul rata.

Anak tidak boleh dipaksa untuk menghafal tanpa memahami substansi yang dia pelajari. Anak kerap dipaksa untuk mengejar pelajaran mengikuti ritme belajar yang timeline nya sudah ditentukan oleh guru. Yang demikian membuat guru merasa selesai jika kewajibannya untuk menyampaikan pelajaran telah dilaksanakan, dan berpindah ke pelajaran yang lebih sulit.

Kurikulum merdeka tidak mendidikte anak, anak dianggap sejajar dengan guru dalam konteks haknya sebagai subjek pendidikan.Guru perlu membiarkan mereka menemukan pengalaman uniknya mengeksplor diri untuk menjadi pelajar pancasila.

Disisi lain kurikulum merdeka juga memberikan keleluasaan bagi guru untuk mengeksplor diri dan memilih berbagai bentuk perangkat ajar. Guru diberikan kemerdekaan sekaligus juga sebagai pelopor dan pengawal merdeka belajar bagi anak didiknya.

Dalam kurikulum merdeka Guru merdeka dituntut tidak hanya mampu mengajar dan mengelola kegiatan kelas secara efektif, tetapi juga membangun hubungan efektif kepada peserta didik dan komunitas sekolah.  Guru merdeka harus memiliki kemampuan untuk menggunakan teknologi guna mendukung peningkatan mutu dan melakukan refleksi, serta perbaikan praktik pembelajaran secara terus-menerus.

Dalam kurikulum merdeka anak tidak ditekan untuk berkompetisi atau bersaing. Tidak ada peringkat kelas yang mengurutkan anak berdasarkan kemampuan akademis yang seragam. Sebaliknya anak diajarkan untuk berkolaborasi membantu temannya yang belum memahami pelajaran.

Tantangan Kurukulum Merdeka

Kurikulum merdeka merupakan konsep yang brilian, memang zaman sudah berubah dan tantangan semakin nyata didepan mata. Modernasi kehidupan umat manusia telah sampai di era industri 4.0 dan masyarakat 5.0. kita akan sampai pada masa tenaga manusia akan tergantikan oleh mesin sepenuhnya.

Indonesia perlu menyiapkan sumber daya manusia yang tangguh menghadapi tantangan zaman. Kreatifitas setiap individu harus dikenali dan dikembangkan.Karena kreatifitas, inovasi dan keterampilan merupakan sentuhan otentik yang akan menjadi kekhasan dalam memecahkan persoalan konkrit di masyarakat.

Kebijakan yang dilahirkan dibawah kepemimpinan Mas Menteri begitulah Nadiem biasa disapa bukan kebijakan yang instan.Sudah ada beberapa sekolah yang lebih dulu menerapkannya sebagai percontohan dan mereka berhasil sesuai dengan apa yang diharapkan.

Namun ternyata ada temuan dilapangan yang berwujud tantangan nyata dalam implementasi kurikulum merdeka. Tantangan itu harus segera dicarikan solusi untuk meningkatkan target merdeka belajar. Diantarnya adalah kesatu adanya kesenjangang sekolah yang berada di daerah terpencil, kedua ada ketidak siapan guru dan murid.