Nuzulul Quran Momentum Penguat Literasi dan Kepekaan Sosial

KHOFIFAH INDAR PARAWANSA, Gubernur Jawa Timur

Oleh KHOFIFAH INDAR PARAWANSA

NUZULUL Quran merupakan sejarah turunnya ayat Alquran untuk kali pertama. Momentum yang selalu diperingati umat Islam di tengah menjalani ibadah puasa. Tentunya, ada semangat yang terbangun setiap tahunnya. Salah satunya ialah menguatkan kesadaran literasi pada berbagai bidang.

Bacaan Lainnya

Pada tarikh Islam disebutkan dengan jelas, ayat yang kali pertama diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW berbunyi Iqra’, yang artinya bacalah. Sebuah perintah dari Allah yang disampaikan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad. Menurut saya, satu ayat yang diturunkan pertama kala itu memiliki makna mendasar. Yakni sebuah perintah dari Allah kepada hamba-Nya saat hidup di dunia.

Membaca adalah kunci untuk mengetahui banyak hal. Membaca adalah cara bagaimana memaknai permasalahan. Membaca juga menjadi cara untuk mengembangkan potensi diri. Perintah Allah yang tertuang pada ayat pertama surah Al-Alaq itu luar biasa.

Membaca merupakan bagian dari literasi. Saya selalu mendorong pentingnya literasi pada berbagai bidang. Sebab, literasi bisa mewujudkan sebuah legasi yang bisa dinikmati generasi mendatang.

Di dunia pesantren, literasi sangat penting. Saya sering menyebut tiga tahapan menuju literasi yang tepat. Pertama, listening society atau mendengar segala informasi di sekeliling. Lalu reading society alias membaca permasalahan dan dinamika sosial. Terakhir, writing society, yakni mewujudkan rangkuman dari hasil listening maupun reading pada sebuah karya.

Fungsi literasi juga sangat dibutuhkan pada pengembangan pustaka keilmuan serta keislaman. Banyak pustaka keilmuan yang perlu dilestarikan. Utamanya literasi keilmuan pada zaman kuno. Perkembangan zaman mengakibatkan pergeseran metode dakwah. Dampaknya, sumber keilmuan yang terangkum pada zaman dulu sulit ditemukan.

Literasi keilmuan pada zaman kuno itu justru banyak digunakan di Indonesia. Bahkan, masih banyak yang diajarkan di lingkungan pesantren. Seperti kitab fikih Sullam Taufiq, Al Ghayah wat Taqrib, serta beragam kitab kuno lainnya.

Segudang ilmu, sarah, dan penjelasan tentang fikih terulas secara jelas pada kitab tersebut. Literasi itu terwujud karena para ulama pengarang kitab memiliki budaya membaca yang luar biasa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.